Dimana Soekarno di Malam G30S/PKI Terungkap, Diam-diam Keluar Istana Sempat Terima Kertas Misterius

By Ony 29 Sep 2023, 14:04:05 WIB Sejarah Indonesia


Keterangan Gambar : Dimana Soekarno di Malam G30S/PKI Terungkap, Diam-diam Keluar Istana Sempat Terima Kertas Misterius


BERJAYANEWS.COM,- Peristiwa Gerakan 30 SPKI tahun 1965 silam masih menyisakan kepingan Puzzle yang belum semuanya terkuak.

Banyak versi sejarah dalam peristiwa G30SPKI yang hingga kini belum semuanya terungkap.

Baca Lainnya :

    Memasuki bulan September jelang peringatan G30SPKI melansir media online alifnews.id yang mengangkat salahsatu kisah dan cerita keberadaan Presiden Soekarno di malam tragedi G30S/PKI

    Dan sebuah misteri secarik surat yang dirobek Presiden Sukarno beberapa jam pasca tragedi penculikan para jenderal.

    Peristiwa tragis dan kelam pada G30S/PKI tak akan pernah terlupalan oleh Bangsa Indonesia, dimana enam perwira tinggi TNI Angkatan Darat dan beberapa orang lainnya tewas dibantai PKI atau Partai Komunis Indonesia.

    Ada tujuh korban dalam gerakan G30S/PKI itu dan mereka semua yang tewas dalam peristiwa tersebut kita kenal sebagai sebagai Pahlawan Revolusi.

    Dalam peristiwa G30SPKI ini ada salahsatu kisah dan cerita tentang keberadaan Presiden Soekarno di malam tragedi G30S/PKI dan misteri selembar kertas yang dirobek Presiden Sukarno pasca tragedi penculikan para jenderal.

    Sebagai Presiden Indonesia pada saat itu, di mana Presiden Soekarno berada pada malam tragedi berdarah itu?

    Kisah ini diangkat dari buku Jenderal AH Nasution berjudul 'Bisikan Nurani Seorang Jenderal cetakan tahun 1997 yang merupakan sebuah buku berisi kumpulan wawancara dengan media massa.

    Dalam buku setebal 400 halaman cetakan Mizan ada beberapa cerita Jenderal besar AH Nasution terkait keberadaan presiden Soekarno atau Bung Karno pada malam peristiwa G30SPKI tersebut.

    Cerita itu sampaikan Jenderal AH Nasution saat wawancara dengan wartawan kurun waktu 1990-1997 dan dimuat di sejumlah harian media massa saat itu.

    Dalam buku tersebut AH Nasution mengungkapkan cerita keberadaan Presiden Soekarno di malam peristiwa G30SPKI tepatnya tanggal 29 September 1965.

    Dalam buku halaman 90 disebutkan Bung Karno pada malam itu menghadiri acara Musyawarah Nasional Teknik (Munastek) di Istora Senayan, Jakarta.

    Saat itu diceritakan di tengah acara sekitar pukul 22.00 WIB Presiden Soekarno menerima sepucuk kertas misterius dari ajudannya.

    Dan kertas surat tersebut disebut dari Letkol Untung yang diketahui merupakan Komandan Batalyon Resimen Cakrabirawa pengawal Presiden pemimpin operasi penculikan para jenderal dalam G30SPKI.

    Presiden Soekarno kemudian memasukan surat tersebut ke dalam kantong, lalu berdiri, pergi keluar menuju WC (toilet) diikuti oleh para ajudan dan pengawal.

    Setelah ada di beranda, beliau membaca surat itu, lalu dimasukannya kembali dalam kantong jasnya.

    Menurut laporan seorang ajudan pasca membaca surat itu beliau (bung Karno) gembira, kemudian kembali ke ruangan acara Munastek dan berpidato berapi-api. 

    Keesokan harinya tanggal 30 September 1965 disebutkan waktu Presiden berada di Halim Perdanakusuma secara khusus ia memerintahkan ajudannya Letkol Suparto mengambil jas yag dipakai Presiden tadi malam (di acara Munastek) dari rumah Dewi (Ratna Sari Dewi istri keenam Bung Karno).

    Dan menurut kesaksian seorang ajudan, surat itu diambil dari saku jas itu dan beliau (Sukarno) sobek-sobek.

    Sementara berdasarkan buku sejarah Maulwi Saelan Penjaga Terakhir Soekarno dikisahkan pada malam itu, Bung Karno tengah begadang dan dia sama-sekali tidak tahu akan adanya penculikan para Jenderal TNI.

    Diceritakan usai menghadiri acara Musyawarah Nasional Teknik (Munastek) di Istora Senayan, Jakarta, 29 September 1965 malam, yang selesai sekitar pukul 23.00 WIB, Bung Karno kembali ke Istana Merdeka bersama pengawal pribadi dan ajudan.

    Karena tidak ada lagi tugas pengawalan, Maulwi Saelan kemudian melapor kepada Soekarno untuk pulang ke rumahnya, di Jalan Birah II No.81, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan sekitar pukul 24.00 WIB.

    Namun Maulwi tidak pernah tahu jika Bung Karno pergi secara diam-diam dari istana.

    Bung Karno saat itu hanya dikawal Kompol Mangil dan timnya yang berpakaian preman.

    Ternyata Bung Karno malam itu menuju rumah istri mudanya Ratna Sari Dewi di Jalan Gatot Subroto.

    Akan tetapi Ratna Sari Dewi tidak di rumah karena sedang menghadiri resepsi di Hotel Indonesia yang diselenggarakan Kedutaan Besar Irak di Jakarta.

    Lantas Bung Karno menyusul ke Hotel Indonesia. Tapi dia tidak masuk.

    Justru Bung Karno menunggu di parkiran hotel bersamaa Soeparto, sopir pribadi Presiden.

    Lalu mereka menjemput Ratna Sari Dewi dan dikawal anak buah Mangil, Ajun Inspektur II Sudiyo.

    Setelah rombongan kembali ke rumah Ratna Sari Dewi.

    Di saat yang sama, di timur Jakarta yang hanya berjarak sekitar 10 km dari rumah Ratna Sari Dewi, telah terjadi penculikan para Jenderal oleh PKI.

    Presiden Soekarno sendiri baru mengetahui informasi pembantaian para jenderal itu pada keesokkan harinya, yaitu pada 1 Oktober 1965 jelang siang hari. ***




    Temukan juga kami di

    Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

    Loading....