Sebuah ruang tamu mendadak sunyi. Kepanikan menyergap dua bocah laki-laki yang terpaku memandangi pecahan guci mahal di lantai. Di tengah bayang-bayang kemarahan sang ayah, seorang kakak tiba-tiba melangkah ke depan. Ia pasang badan, mengaku bersalah, dan merelakan dirinya menerima hukuman demi melindungi adik-adiknya.
Peristiwa masa kecil itu tidak pernah pudar dari ingatan Andi Wawan Tohir Balaw, S.E., M.Si. Sang kakak yang berdiri di depan itu adalah Tomsi Tohir Balaw (kini Komjen Polisi menjabat Sekjen Kemendagri).
Namun, bagi Wawan kecil, momen tersebut adalah sebuah epifani.
Tak tega melihat kakaknya dihukum, Wawan memberanikan diri menghadap sang ayah dan jujur bahwa dialah pelaku sebenarnya.
Ketukan bangga di pundak sang kakak dari ayah mereka hari itu menjadi lanskap moral pertama bagi Wawan.
“Di situlah saya belajar bahwa seorang pemimpin bukan hanya sosok yang lebih tua atau berkuasa, tetapi mereka yang bersedia berdiri paling depan ketika orang-orang yang berada dalam tanggung jawabnya membutuhkan perlindungan,” kenang Wawan.
Kini, nilai “pasang badan” itu dibawanya ke ranah yang lebih luas, memimpin Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Rakyat Indonesia (PRI) Provinsi Lampung.
Nilai ketegasan Wawan kembali ditempa saat keluarganya berpindah ke Bandung. Duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, Wawan pulang dengan tangan hampa setelah uang jajannya dirampas anak yang lebih besar.
Alih-alih menjadi orang tua yang langsung mengintervensi, sang ayah—almarhum Kolonel TNI H. M. Tohir Ismail Balaw—justru meminta Wawan kembali ke lapangan dan menghadapi sendiri persoalan tersebut. Wawan pulang membawa kembali haknya.
Dari insiden uang jajan itu, ia memetik prinsip hidup yang seimbang: seseorang harus berani mempertahankan haknya ketika dirampas. Namun, keberanian tersebut tidak boleh berdiri sendiri; ia harus berjalan beriringan dengan kasih sayang dan tanggung jawab.
Militer, dan Darah Adat
Wawan adalah produk dari persilangan disiplin militer dan keluhuran adat Lampung.
Ia lahir di Bandar Lampung pada 25 Maret 1973, ia tumbuh dalam ketegasan sang ayah dan keanggunan sang ibu, Hj. Maryam Zanariah. Darahnya mengalirkan dua tradisi besar Lampung:
Paksi Buay Pernong (Kerajaan Paksi Pak Skala Brak) dari garis ibu. Keratuan Balaw (Masyarakat Adat Pepadun) dari garis ayah.
Menyandang gelar adat Suttan Hatawan, petatah-petitih adat bukan sekadar ornamen identitas baginya, melainkan kompas cara menempatkan diri dan menghormati sesama.
Sebagai anak kolong, masa kecil Wawan dihabiskan dengan berpindah-pindah kota—mulai dari Makassar, Bandung, Palembang, hingga Jakarta. Namun, sejauh apa pun kakinya melangkah, Lampung adalah magnitudo hidupnya. “Saya lahir di Lampung, darah saya darah Lampung. Saya ingin kembali mengabdi di tanah kelahiran,” ujarnya retoris.
Matang di Korporasi Sebelum Pulang Kampung
Sebelum memutuskan terjun ke politik praktis, Wawan merupakan seorang profesional tulen di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia (HRM). Alumnus Universitas Pancasila dan Magister Universitas Indonesia ini telah malang melintang di berbagai korporasi raksasa nasional, seperti:
Sahid Group, Carrefour/Transmart, KINO Group, MidPlaza Group, Summarecon Agung, Agung Podomoro Land (Jabatan Terakhir: Senior HR Manager)
Setelah memilih pensiun dini pada tahun 2024, ia pulang ke Lampung dan mengelola sejumlah lini bisnis profesional, termasuk menjadi Head of HR Consultant, Komisaris Arizona Lawfirm, serta Direktur Veritrans Group.
Pengalaman puluhan tahun mengelola manusia di dunia korporasi inilah yang membentuk gaya kepemimpinannya yang terukur dan berbasis kedisiplinan.
Politik Sebagai Medium Kebajikan
Langkah Wawan memasuki gerbang politik melalui PRI bukanlah ambisi instan. Berawal dari diskusi strategis mengenai pembangunan daerah bersama sahabatnya, Ir. Indra Baskara, yang kemudian mempertemukannya dengan Ketua Umum PRI, Nazaruddin, Wawan melihat adanya kesamaan visi.
Bagi suami dari Ema Saturdayana ini, politik adalah ekstensi dari prinsip hidupnya untuk menjadi manusia yang bermanfaat.
“Sebaik-baiknya manusia adalah yang memberi manfaat kepada orang lain. Saya memilih jalur politik sebagai cara untuk mengabdi dan menerjemahkan seluruh pelajaran hidup yang saya terima ke masyarakat Lampung,” pungkasnya.
Dari ruang tamu masa kecil tempat guci pecah itu, Andi Wawan Tohir Balaw belajar arti melindungi. Dan kini, di bawah panji DPD PRI Lampung, ia siap pasang badan untuk tanah kelahirannya.
PROFIL SINGKAT
Bagian Data Diri
Nama Lengkap Andi Wawan Tohir Balaw, S.E., M.Si.
Tempat, Tanggal Lahir Bandar Lampung, 25 Maret 1973
Gelar Adat Suttan Hatawan
Istri Ema Saturdayana, S.E.
Orang Tua (Alm) Kolonel TNI H. M. Tohir Ismail Balaw & Hj. Maryam Zanariah
Saudara Komjen Pol. Tomsi Tohir Balaw (Kakak)
Jabatan Saat Ini Ketua DPD Partai Rakyat Indonesia (PRI) Provinsi Lampung
(*)












