Example floating
Example floating
Bandar Lampung

MBG Bukan Menu Bakteri: Makanan SPPG Sumber Rejo Positif Bacillus cereus dan Salmonella

×

MBG Bukan Menu Bakteri: Makanan SPPG Sumber Rejo Positif Bacillus cereus dan Salmonella

Share this article
dok. ist

BERJAYANEWS.COM — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mestinya bikin perut kenyang malah membuat ratusan siswa di tiga sekolah di Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung, harus berurusan dengan diare.

Hasil pemeriksaan laboratorium akhirnya menemukan biang masalahnya. Sejumlah sampel makanan yang disajikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sumber Rejo terdeteksi mengandung bakteri patogen.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandar Lampung Muhtadi Arsyad Tumenggung mengatakan hasil uji laboratorium Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Bandarlampung menunjukkan adanya cemaran bakteri pada sejumlah sampel makanan.

“Berdasarkan hasil uji laboratorium BBPOM di Bandar Lampung menyatakan sejumlah sampel makanan dari SPPG Sumber Rejo, Kemiling, mengandung bakteri yang menyebabkan ratusan siswa di tiga sekolah keracunan,” kata Muhtadi, Kamis, (26/2).

Dua jenis bakteri ditemukan dalam makanan tersebut. Pada sampel tumis tahu, buncis, dan wortel, laboratorium menemukan Bacillus cereus.

Bakteri ini dikenal dapat menyebabkan gangguan pencernaan, antara lain diare dan muntah. Jadi, menu yang seharusnya membuat siswa kuat belajar justru bisa membuat mereka bolak-balik ke toilet.

Tak berhenti di situ. Sampel ikan dori filet juga dinyatakan mengandung Bacillus cereus dan Salmonella. Keduanya termasuk bakteri yang dapat menyebabkan penyakit akibat pangan atau foodborne disease.

“Kemudian pada sampel ikan dori filet terdeteksi kandungan Bacillus cereus dan Salmonella, yang juga termasuk bakteri penyebab penyakit bawaan pangan,” ujar Muhtadi.

Meski begitu, tidak semua menu MBG yang diperiksa mengandung bakteri patogen. Sejumlah sampel lainnya dinyatakan negatif.

Makanan yang dinyatakan negatif antara lain nasi putih, telur ceplok, saus lada hitam, timun segar, anggur, orek tempe, rebusan buncis dan wortel, salak, serta saus barbeque.

Menurut Muhtadi, cemaran bakteri pada makanan olahan bisa terjadi dalam sejumlah tahapan. Mulai dari proses pengolahan, penyimpanan, hingga kebersihan peralatan dan bahan baku.

“Cemaran bakteri pada makanan olahan dapat terjadi akibat proses pengolahan, penyimpanan, maupun higienitas peralatan dan bahan baku yang kurang optimal,” katanya.

Ratusan siswa dari tiga sekolah di Kecamatan Kemiling sebelumnya mengalami gangguan pencernaan setelah menyantap makanan dari program MBG yang disiapkan SPPG Sumber Rejo.

Sebagian besar siswa mengalami diare sehingga tidak dapat mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Lima korban bahkan sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Muhtadi memastikan kondisi para korban kini telah membaik. Termasuk lima siswa yang sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit.

“Para korban yang terdampak makanan yang disiapkan oleh SPPG Sumber Rejo saat ini sudah dalam kondisi sehat, termasuk lima orang yang dirawat di rumah sakit,” katanya.

Dinkes berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi. Apalagi MBG merupakan program yang menyasar anak-anak sekolah, sehingga keamanan makanan menjadi perkara yang tidak bisa dianggap sepele.

“Kami harap kejadian seperti ini (keracunan MBG) tidak terulang lagi di Bandar Lampung, sehingga diharapkan seluruh SPPG yang beroperasi di kota ini dapat menjaga keamanan pangannya,” ujar Muhtadi.

Insiden tersebut juga berujung pada penghentian sementara operasional SPPG Sumber Rejo.

Badan Gizi Nasional (BGN) menutup sementara SPPG tersebut sampai dilakukan tindakan steril dan renovasi terhadap dapur yang digunakan untuk menyiapkan makanan MBG.

Penutupan ini menjadi langkah lanjutan setelah hasil pemeriksaan menunjukkan adanya cemaran bakteri pada beberapa makanan yang disajikan kepada para siswa.

Program MBG memang bertujuan memenuhi kebutuhan gizi anak. Namun, insiden di Sumber Rejo menunjukkan satu hal sederhana yang tak boleh dilupakan: makanan bergizi harus aman dulu sebelum sampai ke piring anak-anak.

Sebab kalau yang gratis bukan cuma makanannya, tetapi bonus bakterinya juga ikut dibagikan, yang kenyang bukan cuma perut—masalahnya pun ikut membesar.

(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *