Example floating
Example floating
Bandar LampungDaerah

Parade Unila 2026 Berujung Kericuhan, Persoalan Tempat Duduk hingga Penggunaan Smoke Bomb Disorot

×

Parade Unila 2026 Berujung Kericuhan, Persoalan Tempat Duduk hingga Penggunaan Smoke Bomb Disorot

Share this article
FOTO ISTIMEWA : Parade Unila 2026 Berujung Kericuhan, Persoalan Tempat Duduk hingga Penggunaan Smoke Bomb Disorot

BANDAR LAMPUNG — Kegiatan Parade Universitas Lampung (Unila) 2026 yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unila di Gedung Serbaguna (GSG) Unila, Sabtu (3/10/2026), diwarnai kericuhan antarmahasiswa.

Berdasarkan laporan di lokasi, kericuhan terjadi antara sejumlah mahasiswa dari Fakultas Pertanian (FP) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Koordinator Lapangan FP, Yanuar Prayoga (Kelautan ’23), mengatakan persoalan awal disebut berkaitan dengan batas atau garis tempat duduk mahasiswa FP. Situasi kemudian memanas setelah adanya penggunaan smoke bomb yang menurutnya dilarang dalam tata tertib kegiatan.

“Permasalahan awal ini dimulai dari garis tempat duduk yang selanjutnya pemicu utamanya adalah penggunaan smoke bomb, padahal dalam tata tertib tidak diperbolehkan,” ujar Yanuar.

Yanuar menyayangkan terjadinya kericuhan dalam kegiatan yang sejatinya dirancang sebagai ajang mempererat hubungan antarfakultas.

Menurutnya, insiden tersebut justru berlawanan dengan semangat solidaritas yang hendak dibangun melalui Parade Unila 2026.

Ia juga menyampaikan bahwa persoalan kericuhan, termasuk kondisi korban, akan ditindaklanjuti melalui proses mediasi yang melibatkan masing-masing BEM fakultas bersama BEM Universitas Lampung.

“Terkait kericuhan dan korban ini akan ditindaklanjuti dalam mediasi malam ini,” tuturnya.

Sementara itu, Menteri Kesenian dan Olahraga BEM Unila, Rakan Guntur (Teknik Mesin ’23), mengaku prihatin atas kejadian tersebut.

Rakan menyebut pihak FISIP dan FP sebelumnya telah menandatangani kesepakatan bermaterai untuk mematuhi tata tertib selama pelaksanaan Parade Unila.

“Jelas saya miris, karena Gubernur FISIP dan Gubernur FP pun sudah menandatangani kesepakatan di atas meterai untuk tidak melanggar tata tertib. Tapi, pas hari H, massa yang mereka bawa malah melanggar tata tertib yang sudah dibuat,” kata Rakan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *