Example floating
Example floating
News

Atasi Kesenjangan, OREO Boyong Alat Belajar Interaktif ke Wilayah 3T di 7 Provinsi

×

Atasi Kesenjangan, OREO Boyong Alat Belajar Interaktif ke Wilayah 3T di 7 Provinsi

Share this article
Siswa SDN 24 Tulang Bawang Barat mencoba alat belajar interaktif program OREO Berbagi Seru & Indonesia Mengajar untuk dukung metode joyful learning, Sabtu (23/5/2026). | Foto: Adsza/Berjayanews

BERJAYANEWS.COM — Kesenjangan fasilitas pendidikan antarwilayah masih menjadi tantangan besar dalam mewujudkan pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia. Menanggapi persoalan tersebut, produsen biskuit OREO bersama yayasan Indonesia Mengajar meluncurkan 15 alat pembelajaran interaktif berbasis metode belajar sambil bermain atau joyful learning.

Rangkaian program bertajuk OREO Berbagi Seru ini ditargetkan menyasar wilayah marginal serta daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) di tujuh provinsi sepanjang April hingga November 2026.

Inisiatif tersebut dirancang guna menyokong visi Pendidikan Bermutu untuk Semua yang digagas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI.

Fokus utamanya adalah menggeser metode hafalan pasif ke arah pembelajaran mendalam (deep learning) yang bermakna, penuh imajinasi, dan menyenangkan bagi siswa sekolah dasar.

Marketing Director Mondelēz Indonesia, Anggya Kumala, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan perusahaan dalam menjembatani kesenjangan akses pendidikan.

“Dengan mengangkat tema OREO Berbagi Seru, tahun ini OREO ingin mendukung fokus Kemendikdasmen RI dengan berkontribusi dalam membantu para siswa untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, berkarakter, dan tentunya seru secara lebih merata dan inklusif,” ujar Anggya lewat keterangan tertulisnya.

Ia menambahkan bahwa program ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan pendidikan di berbagai penjuru Indonesia, agar anak-anak memiliki kesempatan setara untuk berkembang menjadi Generasi SERU, yaitu generasi masa depan yang mencerminkan karakter anak yang future-ready.

Baca Juga: Gandeng Indonesia Mengajar, OREO Sokong Pendidikan Karakter di Tulang Bawang Barat

Hingga akhir tahun 2026, program safari sekolah ini dijadwalkan menjangkau total 7.000 siswa serta lebih dari 1.000 guru, orang tua, dan kader komunitas di berbagai daerah.

Peta sebaran distribusi alat peraga ini mencakup tujuh kabupaten di tujuh provinsi. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Maja di Kabupaten Lebak (Banten), Kecamatan Langkap Lancar di Kabupaten Pangandaran (Jawa Barat), Kecamatan Purworejo di Kabupaten Purworejo (Jawa Tengah), dan Kecamatan Tanjung Sari di Kabupaten Gunung Kidul (DI Yogyakarta).

Selain itu, program ini juga menyisir wilayah Sumatera dan Lampung, tepatnya di Kecamatan Tumijajar di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Lampung), Kecamatan Indralaya Selatan di Kabupaten Ogan Ilir (Sumatera Selatan), serta Kecamatan Bahorok di Kabupaten Langkat (Sumatera Utara).

Sebanyak 15 alat pembelajaran yang dikembangkan mencakup empat bidang utama, yaitu Literasi, Numerasi, Sains, dan Bahasa Inggris, ditambah modul khusus Petualangan Seru.

Seluruh perangkat ini dibagi ke dalam tiga fase tingkatan usia sekolah dasar, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Berdasarkan lembar fakta teknis, contoh alat peraga fisik yang mulai didistribusikan ke sekolah-sekolah antara lain permainan kartu tata kata dan lingkar literasi nusantara untuk bidang literasi.

Sementara untuk mengasah logika matematika, terdapat alat peraga berbentuk balok warna-warni bernama The Lucky Number serta tantangan kubus.

Pada bidang sains dan bahasa, siswa diperkenalkan dengan permainan papan ekosistem untuk menyusun rantai makanan, papan segitiga sains, hingga susunan balok menara (tower challenges) untuk melatih penguasaan kosakata bahasa asing secara aktif.

Untuk menjamin keberlanjutan program di tingkat akar rumput, pendistribusian alat peraga ini wajib diikuti oleh pelatihan ekosistem pendidikan setempat melalui tiga kluster pembinaan.

Para guru mendapatkan pembekalan Training of Trainers agar mampu menyisipkan alat peraga ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran di kelas.

Di sisi lain, para orang tua diberikan sesi edukasi mengenai pemahaman bakat anak serta teknik mengajar interaktif menggunakan permainan sehari-hari di rumah.

Guna menjaga keberlanjutan jangka panjang, pelatihan juga melibatkan penggerak lokal mulai dari ibu-ibu PKK hingga kader desa untuk membantu menciptakan ekosistem belajar berkelanjutan yang dipimpin oleh masyarakat setempat.

(rls)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *