Praktik Translanguaging di Kelas Bahasa Prancis
Oleh: An-Najwa Nurhidayah, Davin Adiyasa Amaran, Naufal Atha Wardana, M. Aditya Ramadhani, Salsabilla Aulia Shafi
(Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung
Pernahkah Anda melihat seorang pengajar bahasa asing tiba-tiba beralih ke bahasa Indonesia di tengah-tengah pelajaran sambil menjelaskan materi? Atau siswa yang mencoba menjawab dalam bahasa asing tertentu lalu beralih ke bahasa Indonesia untuk memastikan bahwa mereka benar-benar memahami materi?
Fenomena ini cukup umum terjadi saat mempelajari bahasa asing, seperti bahasa Prancis. Penggunaan dua bahasa dalam satu kelas terkadang dianggap oleh beberapa orang sebagai hal yang negatif, padahal tidak selalu demikian.
Bahasa Indonesia digunakan sebagai alat bantu pemahaman ketika pengajar ingin menjelaskan tata bahasa, pelafalan atau struktur kalimat yang dianggap sulit. Penggunaan berbagai sumber daya linguistik individu untuk memfasilitasi komunikasi dan pembelajaran disebut translanguaging.
Mengingat keragaman linguistik yang besar dalam pendidikan Indonesia, diskusi tentang translanguaging menjadi semakin relevan. Peserta didik yang belajar bahasa Prancis umumnya memiliki pengalaman dalam menggunakan beberapa bahasa dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Kondisi ini, menjadikan kelas bahasa Prancis sebagai tempat pertemuan untuk berbagai pengalaman linguistik yang berbeda. Oleh karena itu, mereka tidak bergantung pada satu bahasa saja, tetapi juga memanfaatkan berbagai sumber daya linguistik yang tersedia untuk mendukung proses pembelajaran..
Dari sudut pandang sosiolinguistik, bahasa tidak dianggap sebagai sistem otonom. Bahasa dan kehidupan sosial para penuturnya sangat erat kaitannya. Pengalaman linguistik seseorang mempengaruhi cara mereka berkomunikasi, memahami informasi, dan berinteraksi dengan orang lain.
Dengan demikian, peserta didik memanfaatkan seluruh repertoar bahasa yang mereka miliki untuk memahami kosakata, istilah, maupun konsep-konsep baru dalam bahasa Prancis. Dalam masyarakat multibahasa, peralihan dari satu bahasa ke bahasa lain merupakan aktivitas yang alami dan bukan merupakan tanda ketidakmampuan berbahasa.
Dalam pembelajaran bahasa Prancis, translanguaging sering terjadi ketika pendidik menjelaskan konsep tata bahasa. Topik yang sering menimbulkan kesulitan adalah konsep gender nominal.
Berbeda dengan bahasa Indonesia, yang tidak mengklasifikasikan nomina berdasarkan jenis kelamin, bahasa Prancis membaginya menjadi dua jenis (genre), laki-laki atau perempuan. Saat memperkenalkan kosakata seperti le livre (buku) dan la table (meja), para pengajar sering menggunakan bahasa Indonesia untuk menjelaskan bahwa perbedaan ini adalah bagian dari sistem tata bahasa Prancis.
Penjelasan ini membantu siswa memahami bahwa setiap kata benda harus dipelajari.
Translanguaging dapat dilihat ketika pendidik memberikan instruksi pembelajaran di kelas. Misalnya, ketika seorang pendidik meminta peserta didik untuk mengkonjugasi verba parler (berbicara), instruksi sering kali disampaikan terlebih dahulu dalam bahasa Indonesia untuk memudahkan pemahaman, seperti “Coba sekarang konjugasikan verba parler untuk subjek je, tu dan nous.”
Setelah memahami instruksi tersebut, peserta didik kemudian menyelesaikan tugas tersebut. Dalam situasi ini, bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat untuk memperjelas instruksi pembelajaran, sementara bahasa Prancis tetap menjadi bahasa utama yang dipelajari.
Pengajaran fonetik juga tidak luput dari praktik ini. Salah satu topik yang menjadi tantangan besar bagi para pelajar adalah liaison. Oleh karena aturan ini tidak ada dalam bahasa Indonesia, peserta didik sering mengalami kesulitan ketika mereka pertama kali mempelajarinya.
Selama proses pembelajaran, pengajar biasanya meminta siswa untuk menentukan apakah suatu bentuk tertentu melibatkan liaison atau tidak. Misalnya, dengan kalimat les amis, peserta didik dibimbing untuk mengenali bahwa bunyi /z/ terjadi karena liaison wajib antara artikel jamak les dan kata yang dimulai dengan huruf vokal.
Berkat penjelasan dalam bahasa Indonesia, peserta didik dapat memahami alasan perubahan suara ini sebelum menerapkannya dalam pengucapan bahasa Prancis mereka.
Selain liaison, peserta didik juga sering kesulitan memahami konsep consonne muette atau konsonan yang tidak diucapkan. Misalnya, huruf <t> dalam kata chat, huruf <s> dalam kata temps atau huruf <d> dalam kata grand tidak dilafalkan dalam bahasa Prancis. Hal ini sering menyebabkan kebingungan karena dalam sistem bunyi bahasa Indonesia, semua huruf yang ditulis cenderung dilafalkan semua.
Dalam situasi ini, bahasa Indonesia berfungsi sebagai jembatan yang membantu peserta didik mengembangkan pemahaman dasar tentang konsep fonetik bahasa Prancis sebelum menerapkannya dalam penggunaan nyata bahasa tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran bahasa tidak terpisahkan dari pengalaman sosial peserta didik. Dari sudut pandang sosiolinguistik, peserta didik membawa identitas pribadi mereka, pengalaman masa lalu mereka, dan praktik linguistik mereka ke dalam lingkungan pendidikan.
Bahasa Indonesia, dialek lokal dan bahasa Prancis tidak berfungsi sebagai sistem yang bersaing, melainkan sebagai elemen yang saling memperkaya pemahaman. Ketika peserta didik menggunakan bahasa Indonesia untuk memahami prinsip pembentukan kata atau konsep konjugasi dalam bahasa Prancis, mereka memanfaatkan semua sumber daya linguistik mereka untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Kemunculan translanguaging menunjukkan bahwa bahasa memiliki fungsi sosial yang penting dalam pendidikan. Bahasa tidak hanya berfungsi untuk berbagi pengetahuan, tetapi juga untuk mendorong komunikasi dan kerja sama tim. Ketika mereka menggunakan bahasa yang sudah mereka ketahui untuk memahami bahasa lain yang sulit, mereka biasanya merasa lebih percaya diri dalam mengajukan pertanyaan, mengungkapkan pendapat mereka, dan berpartisipasi dalam diskusi di kelas. Hal ini, mendorong lingkungan pembelajaran yang lebih inklusif dan menarik.
Berbagai studi tentang pendidikan multibahasa menunjukkan bahwa translanguaging dapat meningkatkan pemahaman konseptual, meningkatkan keterlibatan peserta didik dan memperkuat kepercayaan diri dalam penggunaan bahasa target.
Dengan memanfaatkan bahasa yang telah mereka kuasai, peserta didik dapat lebih mudah menyerap informasi baru. Selain itu, penggunaan strategi ini dapat mengurangi stres yang biasanya terkait dengan pembelajaran bahasa asing.
Ketika nyaman selama belajar, mereka cenderung menggunakan bahasa Prancis tanpa takut membuat kesalahan.
Namun, bahasa Prancis tetap menjadi bahasa utama yang harus dikuasai oleh peserta didik.
Oleh karena itu, penggunaan bahasa Indonesia harus proporsional dan disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran. Dalam konteks ini, translanguaging berfungsi sebagai jembatan yang membantu peserta didik secara bertahap meningkatkan penguasaan mereka terhadap bahasa Prancis.
Pada akhirnya, untuk membantu mereka mengekspresikan diri dan mendorong pemahaman, translanguaging dapat dianggap sebagai bagian dari solusi.
Dalam kelas multibahasa, keragaman linguistik tidak boleh dianggap sebagai tantangan. Sebaliknya, keragaman ini dapat menjadi aset berharga yang meningkatkan efektivitas, inklusivitas, dan relevansi pendidikan bahasa Prancis yang selaras dengan pengalaman peserta didik. (*)










