Example floating
Example floating
Pendidikan & Sosial

Opini Mahasiswa Unila, Mengintip Peran Algoritma Media Sosial sebagai Jendela Ragam Bahasa Prancis Riil Bagi Pemelajar

×

Opini Mahasiswa Unila, Mengintip Peran Algoritma Media Sosial sebagai Jendela Ragam Bahasa Prancis Riil Bagi Pemelajar

Share this article
Opini Mahasiswa Unila, Mengintip Peran Algoritma Media Sosial sebagai Jendela Ragam Bahasa Prancis Riil Bagi Pemelajar

Algoritma Media Sosial sebagai Jendela Ragam Bahasa Prancis

Oleh: Asyta Nurul Zahra, Siti Sa’diyah, Indah Amelia Putri Akmal, Syakira Putri Ramadhani, Renata Sihombing

(Mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis Unversitas Lampung)

Para peserta didik umumnya diperkenalkan dengan struktur bahasa dan terminologi konvensional saat belajar bahasa Prancis di kelas. Bentuk-bentuk bahasa yang sesuai untuk berbagai konteks formal dan akademis biasanya dimuat dalam modul pelajaran. Namun, kenyataan yang dihadapi banyak pemelajar bahasa Prancis saat ini cukup berbeda. Alih-alih ditemukan dalam modul pelajaran, banyak istilah yang sering digunakan oleh penutur asli justru ditemukan untuk pertama kalinya di media sosial.

Fenomena ini memunculkan sebuah pertanyaan yang menarik. Bagaimana algoritma dapat memengaruhi jenis bahasa yang dipelajari oleh para pemelajar jika media sosial telah menjadi salah satu sumber paparan bahasa utama bagi mereka?

Pertanyaan ini penting karena, dari sudut pandang sosiolinguistik, selain sebagai alat komunikasi, bahasa dianggap sebagai bagian dari hubungan sosial dan situasi dimana bahasa tersebut digunakan. Saat berbicara dengan teman dekat, pengajar, atasan, atau dalam konteks formal, orang tidak menggunakan istilah yang sama.

Saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Menurut DataReportal 2025, terdapat sekitar 143 juta pengguna aktif media sosial di Indonesia. Sebaliknya, Prancis memiliki lebih dari 50 juta pengguna aktif di media sosial. Aktivitas digital di kedua negara memudahkan para pemelajar bahasa Prancis di Indonesia untuk mengakses konten yang dibuat oleh penutur asli. Akan tetapi, hal ini tidak hanya menunjukkan kemudahan akses yang disebutkan di atas, tetapi juga ragam bahasa yang ditampilkan kepada pengguna oleh algoritma.

Konten yang beredar di internet sering kali didominasi oleh berbagai ungkapan informal, bahasa gaul, dan ungkapan khas masyarakat Prancis. Oleh karena itu, media sosial menjadi tempat yang menarik untuk mengamati bagaimana orang-orang sebenarnya menggunakan bahasa.

Misalnya istilah mec dan meuf sering digunakan. Mec berarti ‘cowok’, dan meuf  berarti ‘cewek’. Dari sudut pandang sosiolinguistik, kedua istilah ini tidak hanya sekadar menunjukkan jenis kelamin, namun juga tingkat keakraban tertentu antara pembicara dan pendengar. Remaja dan orang dewasa sering menggunakan istilah-istilah ini dalam interaksi informal mereka misalnya C’est mon mec yang berarti ‘Dia pacarku’ atau Ma meuf arrive dans cinq minutes yang berarti ‘Pacarku akan datang dalam lima menit’.  Perbedaan ini menunjukkan bahwa pilihan kata dipengaruhi baik oleh tingkat formalitas konteks komunikasi maupun makna kata itu sendiri.

Ungkapan c’est ouf yang merupakan bahasa verlan, yang membalik urutan suku kata juga sering digunakan dalam percakapan informal untuk mengekspresikan pujian, kekaguman, atau ketidakpercayaan terhadap segala hal yang dianggap luar biasa. Sementara itu, untuk konteks formal lebih sering digunakan ungkapan seperti C’est incroyable, C’est impressionnant, atau C’est remarquable.

Ungkapan du coup adalah contoh lain. Frase ini secara harfiah dapat diterjemahkan ‘jadi/sebagai akibatnya/oleh karena itu’. Misalnya pada kalimat J’ai raté mon bus, du coup je suis arrivé en retard, yang berarti ‘Saya ketinggalan bus, jadi saya terlambat.’ Konjungsi ini sering digunakan dalam percakapan oleh anak muda dan menjadi ciri khas bahasa Prancis bahasa lisan, meskipun tidak sepenuhnya dianggap sebagai bahasa gaul.

Berikutnya adalah kata grave. Dalam bahasa Prancis baku, grave berarti ‘serius/parah’. Makna kata tersebut telah meluas dalam bahasa sehari-hari dan dapat berarti ‘sekali/tentu saja’. Jadi ketika seseorang bertanya: Tu aimes ce film? (Apakah kamu suka film ini?), bisa dijawab dengan Grave!.

Selain itu, kita juga sering menjumpai kata franchement melalui media sosial. Istilah ini secara harfiah berarti ‘sejujurnya/terus terang’.

Namun, ”franchement” sering digunakan dalam video untuk menonjolkan sudut pandang pribadi. Seorang pembicara mungkin akan berkomentar, misalnya Franchement, ce restaurant est excellen (Jujur, restoran ini enak sekali). Dalam hal ini, ”franchement” berfungsi sebagai simbol integritas sekaligus sarana untuk menonjolkan sudut pandang pribadi. Penggunaan semacam ini umum ditemukan dalam ulasan, vlog, dan percakapan informal.

Fenomena ini menunjukkan bahwa penguasaan bahasa tidak lagi terbatas pada buku dan sekolah di era digital. Selain itu, praktik linguistik yang muncul di media sosial dapat diamati oleh para pemelajar. Mereka mengamati bagaimana penutur asli menggunakan kata-kata, pelafalan, formalitas linguistik, dan teknik komunikasi. Prosedur ini dapat dipandang sebagai jenis pengamatan perilaku linguistik di lingkungan digital.

Menarik untuk dicatat bahwa ungkapan-ungkapan ini tidak muncul begitu saja. Konten yang dikonsumsi pengguna sebagian besar ditentukan oleh algoritma media sosial. Sistem akan menyarankan konten tambahan dengan fitur serupa jika seorang pengguna secara rutin menonton video yang dibuat oleh kreator Prancis. Karena alasan ini, para pemelajar lebih sering terpapar pada ungkapan sehari-hari yang digunakan oleh penutur asli daripada variasi bahasa yang lebih formal.

Media sosial menunjukkan bagaimana unsur-unsur fonologis dapat dipelajari melalui paparan berulang. Beberapa karakteristik sekelompok masyarakat di Paris memiliki pola intonasi yang khas, seperti kecenderungan untuk sedikit memperpanjang nada di akhir kalimat.

Berbagai konten yang diunggah oleh kreator seperti @tristanoutside menampilkan pola-pola ucapan semacam itu. Pengucapan kata-kata oleh para pemelajar dan perkembangan ritme mereka dalam bahasa Prancis dapat dipengaruhi oleh paparan berkelanjutan terhadap pola-pola bicara tersebut. Fenomena ini menunjukkan bahwa penguasaan bahasa melalui media sosial terjadi baik dalam hal pelafalan maupun kosakata.

Banyak penelitian tentang pembelajaran bahasa asing di era digital menunjukkan bahwa media sosial memberikan akses yang lebih baik terhadap penggunaan bahasa dalam kehidupan nyata.

Para pemelajar dapat mengenali bahasa, ungkapan, dan cara berkomunikasi penutur asli melalui paparan yang berulang. Akibatnya, media sosial kini dianggap sebagai platform penting bagi generasi muda dalam menguasai bahasa, bukan sekadar sumber hiburan. Namun demikian, para pemelajar harus memahami bahwa tidak semua situasi memerlukan penggunaan setiap ungkapan yang populer di media sosial. Oleh karena itu, memahami tingkat formalitas suatu ungkapan sama pentingnya dengan memahami maknanya.

Pada akhirnya, fenomena ini tidak hanya mengajarkan kepada kita bagaimana media sosial memfasilitasi proses pembelajaran bahasa, tetapi juga bagaimana algoritma memengaruhi paparan kita terhadap bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Dari sudut pandang sosiolinguistik, bahasa yang diperoleh melalui media sosial jauh lebih dari sekadar daftar kata-kata baru. Bahasa tersebut menyampaikan detail mengenai pola komunikasi, hubungan sosial, dan tingkat formalitas dalam komunitas penutur. Akibatnya, algoritma memengaruhi

pemahaman dan penggunaan bahasa Prancis oleh para pemelajar dalam berbagai situasi komunikasi, selain menentukan informasi apa yang dilihat oleh pengguna.  (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *