Example floating
Example floating
Budaya & Humaniora

Senjakala Bambu Kuning: Riwayat Pusat Belanja yang Terlupakan di Bandar Lampung

×

Senjakala Bambu Kuning: Riwayat Pusat Belanja yang Terlupakan di Bandar Lampung

Share this article

BERJAYANEWS.COM — Langkah kaki memasuki gedung Bambu Kuning Trade Center disambut dengan pemandangan yang kontras dari masa jayanya. Pusat perbelanjaan yang dulu menjadi jantung ekonomi Bandar Lampung ini kini tampak meranggas di tengah keriuhan persiapan warga menyambut Ramadhan.

Kondisinya memprihatinkan, mulai dari lantai dasar hingga lantai tiga yang kini terbengkalai. Di lantai satu, suasana sudah terasa lengang. Banyak toko yang tutup dan beberapa di antaranya ditempeli pengumuman disewakan kembali.

Di tengah barisan ruko yang masih bertahan, Santi (51), tampak duduk menanti pembeli di antara tumpukan dagangannya. Warga Gedong Air ini adalah sosok legenda yang telah 26 tahun berjualan di sini, sebuah pengabdian yang berhasil meluluskan anak sulungnya dari universitas negeri.

Santi yang dulu memiliki toko besar, kini harus bergeser ke lapak yang lebih sempit di belakang deretan penjual celana Hawai. Ia tidak lagi hanya menjual pakaian muslim, melainkan mencampur barang dagangannya agar tetap bisa bertahan hidup.

“Jualnya campur-campur, ada kaos kaki, tali pinggang, peci, ada kaos, tuh campur-campur, campur aduk,” ujarnya saat ditemui pada Selasa, (27/1/2026).

Ibu empat anak ini berkisah bahwa awalnya ia hanya fokus menjual perlengkapan ibadah seperti peci, mukena, dan baju koko. Namun, gempuran pasar digital memaksanya memutar otak agar dagangannya tetap dilirik pembeli.

“Awalnya itu peci, mukena, tapi karena sekarang ini kita kalah sama online, jadinya kita dagang itu harus serba ada kayaknya, biar dapat pelaris gitu. Jadi orang tanya ini kita ada, jadinya campur-campur kayak gini udah dagangnya,” kata Santi.

Persaingan dengan platform digital dirasakan Santi sangat tidak adil, terutama soal harga yang sulit diterima akal sehat pedagang konvensional.

“Ya, satu online, sama ya sekarang tuh kayak mana ya pesaingan tuh online tuh lebih kenceng gitu loh. Dia orang bisa jual murah itu gak ngerti juga itu. Sedangkan kita kadang modalnya segitu. Kayak mana kita kita mau jual kan?” keluh Santi.

Kondisi semakin menyedihkan saat memantau lantai dua. Eskalator yang dulu menjadi akses utama kini mati dan tidak lagi berfungsi. Lorong-lorong di lantai ini minim pencahayaan dan terasa pengap akibat banyaknya pedagang yang gulung tikar. Di beberapa titik, tampak atap gedung yang sudah jebol.

Naik ke lantai paling atas atau lantai tiga, situasinya jauh lebih sunyi. Sepanjang mata memandang hanya ada ruangan kosong luas yang dipenuhi debu. Area yang seharusnya menjadi pusat keramaian ini justru berubah menjadi tempat parkir motor bagi penjaga gedung yang sedang beristirahat.

Ironisnya, di tengah narasi digitalisasi kota, Santi mengaku belum pernah tersentuh bantuan atau sosialisasi dari pemerintah terkait pemasaran digital.

“Belum, belum ada,” jawabnya singkat saat ditanya apakah ada pihak pemerintah yang datang memantau kondisi mereka.

Perbedaan pendapatan yang dirasakannya pun sangat drastis. Dulu, Santi bisa meraup omzet 5 juta hingga 10 juta rupiah dalam sehari.

Sekarang, mendapatkan 200 ribu rupiah saja sudah dianggap sebagai sebuah keberuntungan besar. Bahkan, tak jarang ia pulang tanpa membawa penglaris sama sekali.

Menjelang Ramadhan, Santi hanya berharap ada regulasi harga yang adil agar pasar tradisional bisa kembali bergairah seperti dulu lagi.

“Ya maunya sih yang di online tuh jangan jatuhin harga gitu. Standar aja sama harga pasar gitu. Jadinya kan merata, mau online ini sama jadinya kan ya gitu. Jadinya biar sama-sama, kalau memang mau online, ya online, sama aja di pasar kan,” tuturnya penuh harap.

Bagi warga Bandar Lampung yang ingin mencari peci untuk persiapan Ramadhan sambil membantu pedagang lokal, Santi masih setia menanti di Toko Reza.

Lokasinya berada di lantai satu, masuk dari pintu depan Bambu Kuning lalu belok kiri, tepat di belakang penjual celana Hawai. Di sanalah, sisa-sisa semangat pedagang tradisional Bandar Lampung masih mencoba bertahan di tengah sunyinya gedung tua.

(smd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *