Capaian tersebut dipaparkan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang dipimpin Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara daring. Staf Ahli Bidang Hukum, Pemerintahan, dan Politik Pemprov Lampung, Achmad Saefulloh, menyebut keberhasilan ini merupakan buah dari sinergi menjaga rantai pasok, Senin, (9/2/2026).
Di saat Lampung mencatatkan angka di bawah 2 persen, inflasi nasional justru menunjukkan tren mendaki. Mendagri Tito Karnavian mengungkapkan inflasi nasional menyentuh 3,55 persen (yoy), naik signifikan dibanding periode sebelumnya yang berada di angka 2,92 persen.
Tito menjelaskan, lonjakan nasional dipicu oleh dua faktor utama:
-
Sektor Energi: Penghapusan subsidi listrik 50 persen untuk pelanggan 2.200 VA ke bawah yang sempat berlaku pada awal 2025, menciptakan efek basis rendah (low base effect) yang mengatrol angka inflasi tahun ini.
-
Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa: Kenaikan harga emas perhiasan menyumbang inflasi hingga 15,22 persen secara nasional.

Data grafik hasil paparan menunjukkan tren positif tidak hanya di tingkat provinsi, tetapi juga di level kabupaten/kota. Kota Metro berhasil menembus daftar 10 Kota Terendah nasional dengan angka inflasi 2,03 persen. Sementara itu, Kota Bandar Lampung mencatatkan angka yang jauh lebih rendah lagi, yakni 1,43 persen, berada di bawah batas rentang target nasional 1,5 hingga 3,5 persen.
BPS memproyeksikan anomali angka inflasi akibat penyesuaian tarif listrik akan mulai melandai dan kembali normal pada Maret hingga April 2026. Penurunan Indeks Perubahan Harga (IPH) di Lampung pada pekan pertama Februari sebesar -0,08 persen juga menjadi sinyal positif keberlanjutan stabilitas harga.
Pemerintah Provinsi Lampung mengklaim hasil ini tak lepas dari pemantauan distribusi yang ketat guna memastikan ketersediaan pasokan bahan pokok seperti cabai merah, daging ayam ras, dan telur ayam di pasar-pasar tetap aman.
(*)












