Scroll untuk baca artikel
Example 970x250
Example floating
Example floating
NasionalNewsPendidikan & SosialRagamUnila

Aksen dan Hierarki Sosial, Nani Kusrini Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung 

×

Aksen dan Hierarki Sosial, Nani Kusrini Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung 

Share this article
Nani Kusrini Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung

BARU-baru ini terjadi perang digital di antara penggemar K-pop di platform X.  Permasalahan yang sejatinya sepele menjadi melebar ke banyak aspek dan platform yang lain. Berawal dari kritik netizen Malaysia di media sosial terhadap tindakan fansite K-pop asal Korsel yang membawa kemera profesional dengan lensa panjang pada konser boyband Day6 di negara jiran tersebut.  Tindakan ini dinilai tidak hanya melanggar aturan konser tetapi juga mengganggu kenyamanan penonton lainnya. Unggahan tersebut kemudian direspon secara berlebihan oleh netizen asal Korsel (Knetz) dengan komentar-komentar berbau rasisme yang tidak hanya ditujukan pada netizen Malaysia tetapi juga dari negara-negara di Asia Tenggara lainnya, termasuk Indonesia.  Tak ayal, gabungan netizen asal wilayah ini yang menyebut dirinya SEAblings beramai-ramai membalasnya dengan ejekan yang tidak kalah ‘sangar’.  Salah satu sindiran dari pihak ini terkait pelafalan bahasa Inggris.

Bahasa Inggris adalah lingua franca internasional. Meskipun banyak orang dapat menggunakan bahasa ini, namun untuk sebagian orang, pelafalannya masih dipengaruhi aksen bahasa pertama. Dalam konteks ini, netizen SEAbling menganggap penggunaan bahasa Inggris oleh warga Korsel dianggap ‘aneh’, ‘lucu’, ‘tidak intelek’ atau dengan kata lain orang pelafalan bahasa Inggris orang Korea tidak ‘standar’ misalnya speakeu englisheu I don’teu understandeu abouteu whateu you saideu. Hal ini sebenarnya bisa dijelaskan secara fonologis. Bahasa Hangeul Korea memiliki karakteristik bunyi yang unik, antara lain minimnya konsonan final di akhir kata (silaba) serta tidak adanya gugusan (kluster) konsonan seperti /sp/, /st/, /sk/ dan sebagainya. Oleh karena itu, untuk menghindari konsonan akhir dan menjaga struktur silaba tetap terbuka (konsonan+vokal), ditambahkanlah vokal tertentu (epenthetic vowel) sehingga terdengar seperti contoh tersebut.

Hinaan pada cara seseorang berbahasa seperti contoh tersebut bukan hal baru. Jika peristiwa di atas terjadi lintas negara, hal yang sama juga pernah dijumpai dalam suatu negara (internal), contohnya pada masyarakat Prancis. Kejadian yang menuai banyak kritik dari publik ini terjadi pada tahun 2018.  Pemimpin salah satu partai politik di Prancis, yaitu Jean-Luc Mélenchon mengejek aksen salah satu jurnalis asal Toulouse (nama salah satu daerah di Prancis) saat wawancara.  Hal ini dilakukan dengan meniru aksen sang jurnalis dengan bertanya ‘Apa maksudnya? Ada yang punya pertanyaan dalam bahasa Prancis yang bisa dimengerti?’.

 

Penulis : Nani Kusrini
Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung

 

Bahasa Prancis memiliki beberapa aksen. Aksen Toulouse termasuk dalam aksen selatan dengan ciri khas pelafalan vokal akhir yang lebih jelas dana bunyi nasal yang lebih tajam.  Aksen ini juga sangat ikonik dan terdengar seperti nyanyian.  Dalam representasi media dan budaya, aksen selatan diasosiasikan dengan keramahan, kehangatan, dan spontanitas, namun sayangnya di dunia professional aksen ini dianggap kurang serius dan terlalu bersifat ‘kedaerahan’.  Sementara itu, aksen Paris yang bersifat netral memiliki posisi yang prestisius. Faktor sejarah menetapkan aksen Paris ini sebagai aksen standar bahasa Prancis yang diperkuat dengan penggunaannya secara meluas di media massa, institusi pemerintahan, dan pendidikan.

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi tetapi juga penanda hierarki sosial.  Sosiolog asal Prancis Pierre Bourdieu menyatakan bahwa bahasa bersifat tidak netral. Bahasa dapat menjadi instrumen kekuasaan atau modal simbolik (capital symbolique/linguistic capital) yang nilainya beroperasi seperti komoditas dalam pasar linguistik (marché linguistique).  Tidak semua bahasa (aksen) memiliki nilai yang sama. Cara berbicara yang mendekati ‘standar’ memiliki legitimasi institusional. Dalam konteks ini, pelafalan bahasa Inggris yang mendekati penutur aslinya diannggap lebih baik/bermartabat, demikian juga untuk bahasa Prancis dengan aksen Paris.

Rasisme atau prasangka tentang suatu bangsa/kelompok lebih superior dibandingkan yang lain tidak hanya terkait agama, ras, atau adat istiadat, tetapi juga dalam bahasa (linguistik) termasuk aksen bicara. Dalam sosiolinguistik, diskriminasi terhadap seseorang yang didasarkan pada cara berbicara (aksen, dialek, variasi bahasa, atau pilihan bahasa) disebut dengan glottophobie. Istilah ini dipopulerkan oleh linguis asal Prancis Phillipe Blanchet dalam bukunya yang berjudul Discriminations: combattre la glottophobie (2016).

Penulis, dalam hal ini, tidak berpihak pada kubu manapun (Knetz atau SEAblings) melainkan berupaya menggarisbawahi bahwa sikap merendahkan cara berbicara seseorang atau kelompok juga termasuk bentuk diskriminasi.  Glottophobie sering dianggap sebagai wajah terselubung dari rasisme karena menciptakan hierarki bahasa. Diskriminasi linguistik ini juga dapat membatasi akses seseorang pada pendidikan, pekerjaan, pelayanan publik, dan keadilan hukum. Seriusnya dampak yang ditimbulkan dari praktik rasisme ini mendorong parlemen Prancis mengesahkan Undang-Undang Nomor 2020-1672 tahun 2020 yang secara spesifik memasukkan ‘aksen’ sebagai salah satu bentuk diskriminasi dalam hukum pidana dan perburuhan dengan ancaman pidana penjara hingga 3 tahun.

Bahasa bukan sekedar bunyi tetapi di dalamnya melekat sejarah serta identitas suatu kelompok (bangsa).  Merendahkan aksen, berarti merendahkan martabat. Di lain sisi, perbedaan merupakan fitrah. Keanekaragaman aksen seharusnya menjadi kekayaan suatu bangsa yang perlu dijaga (dalam konteks Prancis) dan perbedaan cara berbicara adalah hal wajar karena bahasa adalah kebiasaan (dalam konteks Knetz dan SEAbling). Oleh karena itu, perbedaan seharusnya disikapi lebih bijaksana. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *