BERJAYANEWS.COM- Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengklarifikasi tentang pengadaan menu daging sapi untuk pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dadan sempat mengatakan bahwa per harinya, saat serentak memakai menu daging sapi untuk MBG, dapur Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) membutuhkan 19.000 ekor sapi.
Atas pernyataannya tersebut, kini Dadan meluruskan bahwa itu adalah pengandaian perhitungan, bukan kondisi nyata di lapangan.
Kebutuhan 19.000 Ekor Sapi per Hari Hanya Pengandaian
Lebih lanjut, Dadan menyampaikan bahwa angka tersebut juga diikuti dengan asumsi bahwa seluruh SPPG di Indonesia secara serentak menyajikan menu daging sapi untuk para penerima manfaat.
“Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor, kalau misalnya SPPG hari ini mau masak daging sapi,” kata Dadan dikutip dari keterangannya kepada awak media pada Kamis, 23 April 2026.
“Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian kita mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi,” jelasnya.
Adapun dalam satu kali proses memasak, kata Dadan, kebutuhan daging sapi di satu SPPG bisa mencapai sekitar 350 hingga 382 kilogram atau setara satu ekor sapi untuk kebutuhan dagingnya saja.
“Menunya itu ada telur, ada ayam, ada sapi, ada ikan. Misalnya, kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram sekali masaknya berarti satu ekor sapi. Ini lah pentingnya makan bergizi agar tangkapan rasionya bagus. Jadi, satu kali masak daging sapi butuh 382 (kg), itu artinya satu ekor sapi, dagingnya saja,” lanjutnya.
BGN Belum Pernah Mencoba Menu Serentak
Meski program MBG sudah berjalan di seluruh provinsi di Indonesia, Dadan mengakui bahwa BGN belum pernah memberikan instruksi untuk mendistribusikan menu yang seragam secara nasional.
Pasalnya, menu yang seragam bisa berdampak pada harga di pasar karena lonjakan kebutuhan bahan pangan tertentu.
Misalnya ketika peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober lalu, menu yang disajikan berupa nasi goreng dan telur untuk sekitar 36 juta penerima manfaat dan diklaim menjadi penyebab naiknya harga telur di pasaran.
“Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton, dampaknya harga telur sempat naik Rp3.000,” jelasnya.
Oleh Karena itu, menu yang disajikan oleh SPPG per daerah sesuai dengan potensi sumber daya dan kebiasaan sehari-hari masyarakat di wilayah tersebut.
“Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal, supaya juga tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi, kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik,” paparnya.
Pernyataan soal 19.000 Sapi hingga Deretan Momen Viral Menu Daging
Sebelumnya, Dadan sempat melapor kepada Presiden Prabowo bahwa setiap dapur SPPG untuk MBG membutuhkan satu ekor sapi setiap hari saat sidang kabinet paripurna di Istana Negara pada 15 Desember 2025 lalu.
Dalam rapat tersebut, Dadan mengungkapkan ada 19.000 dapur SPPG yang beroperasi pada akhir Desember 2025, sehingga menurutnya sebanyak 19.000 ekor sapi harus dipotong serentak dalam satu hari di seluruh nusantara.
Pernyataan tersebut yang kemudian beberapa kali mendapat sindiran dari warga penerima manfaat karena menu daging sapi jarang muncul saat MBG.
Beberapa olahan menu daging sapi sempat viral seperti saat menu kering Ramadan di Karawang, Jawa Barat di mana orang tua siswa protes menerima dua potong daging slice tipis untuk MBG.
Kemudian viral daging yang masih alot karena diduga pengolahan yang kurang sempurna di Lampung Barat hingga turut viralnya pengakuan siswa di Nabire saat menu MBG berisi rendang daging saat kunjungan Wapres Gibran di salah satu sekolah ketika biasanya dibagikan telur, ayam, atau ikan. (*)
*












