Example floating
Example floating
Uncategorized

Polwan Sumbar Ungkap Modus Pejabat Polda Lakukan Pelecehan, Diminta Tutup Mata Pilih Amplop Buat Liburan! “Pak Jangan Pak, Saya Tidak Mau”

×

Polwan Sumbar Ungkap Modus Pejabat Polda Lakukan Pelecehan, Diminta Tutup Mata Pilih Amplop Buat Liburan! “Pak Jangan Pak, Saya Tidak Mau”

Share this article
Foto Ilustrasi: Polwan Sumbar Ungkap Modus Pejabat Polda Lakukan Pelecehan, Diminta Tutup Mata Pilih Amplop Buat Liburan! "Pak Jangan Pak, Saya Tidak Mau"

BERJAYANEWS.COM, — Seorang anggota polisi wanita (Polwan) berpangkat Brigadir berinisial Mawar (nama samaran) membongkar dugaan aksi pelecehan seksual yang dialaminya dari atasan langsung di lingkungan Polda Sumatera Barat (Sumbar).

Peristiwa memprihatinkan tersebut terjadi pada Kamis (15/1/2026) di dalam ruangan kerja sang atasan dengan modus meminta korban menutup mata sebelum memilih salah satu dari dua amplop berisi uang saku liburan.

Saat itu, korban mengaku ia bersama enam rekan perempuan lainnya tengah mempersiapkan rencana perjalanan liburan.

Dari tujuh orang yang akan berangkat, Mawar menyebut hanya empat orang yang dijanjikan mendapat tambahan uang saku untuk kebutuhan perjalanan.

Sebelum dirinya dipanggil, Mawar mengatakan seorang rekan terlebih dahulu diminta masuk ke ruangan atasannya. Tidak lama berselang, ia kemudian mendapat panggilan serupa.

“Pada hari kejadian ada satu rekan saya dipanggil terlebih dahulu ke ruangannya,” ujar Mawar saat memberikan keterangan kepada awak media, Minggu (26/7/2026).

Ketika menerima panggilan tersebut, Mawar mengaku sedang melakukan video call dengan suaminya. Sang suami mengetahui dirinya diminta masuk ke ruangan atasan dan meminta agar sambungan komunikasi tetap berlangsung.

“Saya sedang video call dengan suami. Suami saya tahu saya dipanggil ke ruangan beliau dan berpesan agar jangan mematikan panggilan video,” katanya.

Setelah berada di dalam ruangan, Mawar mengaku diminta duduk oleh atasannya. Tidak lama kemudian, ia diperintahkan untuk menutup mata sebelum diminta memilih salah satu dari dua amplop.

Mawar mengaku sempat merasa tidak nyaman dengan instruksi tersebut. Meski demikian, ia tetap mengikuti arahan karena atasannya menyampaikan bahwa terdapat dua amplop yang harus dipilih.

“Beliau bilang, ‘Ini ada dua amplop, kamu pilih, tapi kamu tutup mata dulu’,” ucapnya.

Korban Mengaku Menolak dan Berusaha Mundur

Mawar menuturkan, saat menutup mata itulah dirinya mengaku mengalami tindakan yang diduga sebagai pelecehan seksual.

Ia mengaku terkejut dan spontan berusaha menjauh dari atasannya.

“Saya langsung refleks mundur. Dalam keadaan syok dan ketakutan saya bilang, ‘Pak jangan pak, saya tidak mau kayak gini caranya. Kalau kayak gini caranya saya ada uang pak’,” katanya menceritakan sambil menangis.

Menurut Mawar, setelah melihat reaksinya, atasannya langsung meminta maaf dan mengatakan tidak memiliki niat melecehkannya.

“‘Saya tidak bermaksud melecehkan kamu. Kamu ambil amplop dua-duanya ya, jangan bilang siapa-siapa’,” ujar Mawar menirukan ucapan atasannya.

Meski demikian, ia mengaku tetap menolak mengambil amplop tersebut.

Korban mengatakan perdebatan berlangsung sekitar 15 menit. Karena merasa takut dan melihat atasannya mulai kesal, ia akhirnya mengambil amplop tersebut agar bisa segera keluar dari ruangan.

“Saya mengambil amplop itu supaya cepat bisa keluar dari ruangan,” tuturnya.

Suami Datangi Ruangan, Korban Mengaku Masih Trauma hingga Kini

Mawar mengatakan, suaminya yang mendengar percakapan melalui sambungan video call saat itu, setelahnya langsung mendatangi ruangan atasannya.

Menurutnya, sang suami mempertanyakan tindakan yang dilakukan terhadap dirinya.

“Beliau hanya meminta maaf kepada saya dan suami saya,” katanya.

Beberapa hari setelah kejadian, tepatnya Senin (19/1/2026), suaminya menghadap Kapolda Sumbar yang saat itu menjabat untuk melaporkan peristiwa tersebut.

Ia mengatakan pimpinan kemudian mengambil langkah dengan memindahkannya ke satuan kerja lain.

“Namun sebenarnya saya masih trauma bertemu dengan beliau. Walaupun sudah pindah satker, masih sama-sama di lingkungan Polda Sumbar, tetapi ruangannya sudah berjauhan,” ujarnya.

Mawar mengaku sejak saat itu tidak pernah lagi bertemu secara langsung dengan terduga pelaku, kecuali sesekali berpapasan dari kejauhan.

Kendati kasus ini telah dilaporkan kepada pimpinan Polda Sumbar dan Mawar telah dipindahkan ke satuan kerja lain, ia mengaku masih mengalami trauma mendalam.

Selain itu, Mawar dan keluarganya mengaku sempat diminta menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan, serta mendapat serangkaian intimidasi berupa ancaman Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) dan mutasi jauh melalui pesan singkat anonim. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *