BerjayaNews.com,-Sebagai sekolah yang baru membuka bahasa Prancissebagai mata pelajaran pilihan, SMA Yadika menghadapibeberapa tantangan antara lain minimnya akses dan pajananpada bahasa dan budaya Prancis yang juga berpengaruh pada motivasi belajar siswa.
Merujuk pada permasalahan tersebut, tim pengabdiaan PS Pendidikan Bahasa Prancis UniversitasLampung berusaha memberikan solusi denganmenyelenggarakan pelatihan bahasa dan budaya Prancismelalui bidang gastronomi. Tema gastronomi dipilih menjadititik masuk (entry point) atas dasar beberapa pertimbangan.
Bahasa Prancis memiliki ± 390 juta penutur dan menjadibahasa keempat yang paling banyak dituturkan di dunia. Bahasa ini sangat dominan dalam bidang hukum dan kuliner(gastronomi).
Seperti yang disampaikan oleh Klosse (2013) bahwa French is the language of the kitchen. To speak the language of gastronomy is, by default, to speak a version of French.
Gastronomi merupakan seni estetika memasak, caramenikmati makanan dan minuman, serta beberapa aturankuliner kompleks termasuk tata krama di meja makan.
Masyarakat Indonesia sudah cukup akrab dengan kosakatabidang gastronomi Prancis seperti mayones, omelet, croissant, macaron, roti baguette, crêpe, filet, margarin, dan sebagainyaSebagai art de vivre (art of living), gastronomi juga telahresmi diakui oleh UNESCO sebagai Warisan BudayaTakbenda Kemanusiaan (Intangible Cultural Heritage of Humanity) pada tahun 2010.
Di lain sisi, belajar bahasa tidak bisa dipisahkan dari unsurbudaya. Pembelajaran bahasa idealnya tidak hanya berfokuspada aspek linguistik saja tetapi juga mencakup pemahamanbudaya yang melatarbelakanginya.
Signifikansi budayadalam pembelajaran bahasa tidak hanya mendukungkompetensi komunikatif, tetapi juga menjadi proses reflektifyang mampu menumbuhkan sikap toleransi, keterbukaanpikiran, serta apresiasi lintas budaya.
Materi belajar yang dikemas dengan menggunakan konteks budaya merupakanalat yang efektif untuk memotivasi siswa dalammengaplikasikan pengetahuannya.
Pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 7 April 2026 di Aula SMA Yadika Bandar Lampung dan diiikuti 98 orang siswa dari kelas X serta dihadiri beberapa guru pendamping.
Penyampaian materi tentang kosakata serta tata bahasatertentu yang mendukung komunikasi terkait gastronomi,dilakukan secara interaktif dengan memanfaatkanWordwall.net, sebuah platform digital berbasis web yang digunakan khusus untuk menciptakan media pembelajarandan evaluasi interaktif berbasis permainan (gamifikasi).
Demikian juga materi tentang etika dan nilai sosial budayamasyarakat Prancis yang disampaikan secara interaktif dengandiskusi serta pemutaran video singkat. Sementara itu, acara puncak dari kegiatan PKM ini adalah praktik memasak(crêpes).
Crêpes merupakan salah satu ikon gastronomiPrancis yang dikenal secara global dan memiliki akar tradisiyang mendalam di masyarakat Prancis, khususnya terkaitperayaan La Chandeleur yang dirayakan tiap tanggal 2 Februari. Selain populer, resep ini juga relatif sederhana baikdari segi bahan, peralatan, maupun proses pembuatan.
Sesi ini bukan sekedar demonstrasi memasak melainkansebuah kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi dan mendapatkan pengalaman langsung.
Tidak hanyamenciptakan momen kegembiraan, demonstrasi ini dapatmenjadi pengalaman interaktif bagi siswa untukmempraktikkan kosakata dan aspek linguistik lainnya, sekaligus mendalami pemahaman budaya melalui praktik dan mencicipi resep masakan Prancis secara langsung.
Aktivitasini selaras dengan pendekatan prinsip experiential learningatau pembelajaran berbasis pengalaman yang memungkinkansiswa menerapkan pengetahuan mereka dalam aktivitas nyatasehingga memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan bertahan lama karena terbangun melalui pengalaman konkret.
Hasil evaluasi kegiatan ini yang dilakukan melaluiaplikasi Wayground (Quizizz) menunjukkan bahwapenguasaan dan pemahaman siswa pada bahasa serta budayaPrancis terkait bidang gastronomi menjadi lebih baik. Wawancara singkat yang dilakukan pada beberapa pesertajuga menunjukkan respon yang positif pada kegiatan ini.
Selain mengedukasi siswa tentang bahasa dan budayaPrancis, kegiatan ini diharapkan mampu membangun citrapositif bahasa Prancis bagi seluruh siswa. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi awal bagi kerjasama yang lebih solid antara pihak mitra dan Unila, khususnya PS Pendidikan Bahasa Prancis (*)
Tim Pengabdian PS Pendidikan Bahasa Prancis Unila
(Nani Kusrini, Riza Harani Bangun, Diana Rosita, EndangIkhtiati, Indah Nevira Trisna)












