BERJAYANEWS.COM — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya bikin perut kenyang dan badan bugar malah bikin ratusan siswa di tiga sekolah di Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung, mengalami diare.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandar Lampung mencatat sedikitnya 194 siswa, guru, penjaga sekolah, hingga orang tua terdampak gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan makanan MBG.
Kepala Dinkes Kota Bandar Lampung Muhtadi Arsyad Tumenggung mengatakan kasus tersebut terjadi di SDN 4 Sumberjo, SD Al Munawaroh, dan SMP Negeri 14 Bandar Lampung.
“Ada ratusan siswa dari tiga sekolah yang terkena diare di Kecamatan Kemiling diduga karena mereka menyantap MBG pada Jum’at (13/2),” kata Muhtadi dikutip dari ANTARA.
Kasus terbanyak ditemukan di SDN 4 Sumberjo. Sebanyak 77 siswa mengalami diare. Selain siswa, sembilan guru dan satu orang tua juga ikut terdampak.
Sementara di SD Al Munawaroh, sebanyak 64 siswa mengalami keluhan serupa. Kasus juga menimpa 11 orang yang terdiri atas guru dan penjaga sekolah serta satu orang tua guru.
Sedangkan di SMP Negeri 14 Bandar Lampung, Dinkes mencatat 43 siswa terdampak.
Dari ratusan orang yang mengalami gangguan kesehatan tersebut, sejumlah korban harus mendapatkan perawatan medis.
“Kelima orang yang dirawat rata-rata dari sekolah Al Munawaroh, sedangkan untuk di SDN 4 Sumberjo rata-rata rawat jalan,” ujar Muhtadi.
Kondisi serupa terjadi di SMPN 14. Sebanyak 37 siswa menjalani rawat jalan, sedangkan enam lainnya harus mendapatkan perawatan di rumah sakit dan Puskesmas Kemiling.
Dinkes Bandar Lampung pun langsung bergerak setelah menerima laporan. Puskesmas Kemiling dan Puskesmas Bringin Raya diminta terus memantau kondisi siswa, guru, maupun pihak lain yang terdampak.
Pemantauan dilakukan untuk memastikan kondisi para korban terus membaik, terutama mereka yang menjalani rawat jalan.
“Artinya kami ingin memastikan para siswa dan guru yang diduga keracunan MBG ini sehat dan membaik, terutama mereka yang rawat jalan. Karena yang rawat inap sudah pasti ditangani oleh dokter di rumah sakit,” kata Muhtadi.
Meski kasus terjadi setelah para siswa menyantap MBG, Dinkes belum berani memastikan makanan tersebut sebagai penyebab utama diare.
Muhtadi mengatakan ketiga sekolah tersebut menerima makanan MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama di Kecamatan Kemiling.
Petugas Dinkes telah mengambil sampel air dan makanan untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.
“Saat ini kami sudah mengambil sampel air makanan untuk dicek, namun belum bisa memastikan mereka keracunan karena apa,” ujarnya.
Menurut dia, masih ada sejumlah kemungkinan yang harus diperiksa. Gangguan kesehatan bisa saja berkaitan dengan bahan makanan maupun makanan yang telah melalui proses pengolahan dan penyimpanan sehingga tidak layak dikonsumsi.
“Bisa juga karena penyebab lainnya seperti bahan makanan atau makanan yang sudah diolah karena melewati proses tertentu mengalami tidak layak makan atau basi,” katanya.
Petugas Dinkes juga telah mendatangi lokasi SPPG untuk melakukan pemeriksaan secara langsung.
Dari sisi bangunan, Muhtadi menyebut kondisi SPPG tersebut secara umum telah memenuhi kriteria. Namun, ada satu catatan yang cukup bikin dahi berkerut.
SPPG tersebut ternyata belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
“Ya, data kami SPPG ini belum punya SLHS,” kata Muhtadi.
Dinkes, kata dia, masih menemukan sejumlah poin yang belum memenuhi persyaratan. Karena itu, pihaknya belum memberikan rekomendasi kepada Dinas Perizinan untuk menerbitkan SLHS bagi SPPG tersebut.
“Catatan Dinkes ada beberapa poin di SPPG ini belum memenuhi syarat sehingga harus ada perbaikan. Atas dasar itu Dinkes belum mengeluarkan rekomendasi untuk diterbitkan SLHS ke Dinas Perizinan,” ujarnya.
Kini Dinkes masih menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan dan air untuk mengetahui penyebab pasti ratusan siswa dan sejumlah guru mengalami diare.
Sambil menunggu hasil pemeriksaan, pemantauan terhadap kondisi korban terus dilakukan. Sebab, program yang mestinya menghadirkan makan bergizi gratis jangan sampai malah membuat warga sekolah mendapat bonus “mules berjamaah.”
(*)










