Scroll untuk baca artikel
Example 970x250
Example floating
Example floating
Bandar LampungBudaya & Humaniora

Edamame dari Lampung ke Jepang: Jurus Baru PTPN I Menembus Pasar Dunia

191
×

Edamame dari Lampung ke Jepang: Jurus Baru PTPN I Menembus Pasar Dunia

Share this article
Dari Ladang Nusantara ke Meja Jepang: Edamame Jadi Senjata Baru PTPN I Hadapi Persaingan Global
Dari Ladang Nusantara ke Meja Jepang: Edamame Jadi Senjata Baru PTPN I Hadapi Persaingan Global

BERJAYANEWS.COM,- Di tengah tantangan industri perkebunan tradisional seperti tebu dan sawit, PTPN I mencari jalan baru untuk bertahan sekaligus berkembang. Jalan itu ternyata datang dari ladang yang berbeda: edamame dan okra, dua komoditas yang selama ini lebih akrab di telinga konsumen internasional ketimbang masyarakat lokal.

Melalui anak usahanya, PT Mitra Tani Dua Tujuh (MTDT), sejak 2020 PTPN I mulai memanfaatkan lahan cadangan seluas 450 hektare. Lahan ini tidak ditanami sawit atau karet, melainkan edamame—yang sering disebut kedelai Jepang—dan okra, sejenis timun hijau panjang yang banyak digunakan di hidangan Asia maupun Barat.

Sistem pengelolaannya pun tak main-main. Lahan dibagi menjadi tiga siklus tanam, dengan usia panen hanya sekitar empat bulan. Dengan perawatan intensif, teknik agronomi modern, serta perlakuan pascapanen yang sesuai standar mutu pangan, hasilnya mampu menembus pasar internasional yang terkenal ketat.

“Hampir 80 persen produksi kami terserap pasar ekspor, utamanya Jepang. Sisanya bisa dinikmati konsumen lokal dalam bentuk frozen di pasar modern,” ujar Agus Subagio, Supervisor PT MTDT Wilayah Barat, saat ditemui di Jakarta, Senin (8/9/2025).

Data produksi menunjukkan konsistensi usaha ini. Pada 2020, MTDT menghasilkan 8.437 ton edamame dan okra untuk ekspor. Angka itu memang mengalami fluktuasi—2021 mencapai 8.033 ton, 2022 naik tipis jadi 8.294 ton, lalu 2023 sedikit menurun ke 7.569 ton—namun tren ekspornya tetap positif.

Agus menekankan, untuk masuk ke pasar global, tidak cukup hanya mengandalkan kualitas rasa. “Produk pangan ekspor itu standar mutunya sangat tinggi. Mulai dari asal-usul lahan, higienitas, bebas pestisida, hingga sertifikasi keamanan pangan internasional. Semua proses, dari ladang hingga pengemasan, harus transparan dan rigid. Dan alhamdulillah, kami bisa memenuhinya,” jelasnya.

Langkah ini dinilai strategis. Di tengah fluktuasi harga sawit dan gula, diversifikasi pangan semacam ini bisa menjadi profit center baru bagi PTPN I. Apalagi, tren global menunjukkan permintaan sayuran sehat, bebas kontaminan, dan praktis dikonsumsi terus meningkat.

Namun PTPN I tak berhenti di situ. Selain edamame dan okra, mereka juga mulai mencoba menanam kentang manis dan buncis (ingen) meski masih dalam skala kecil. Harapannya, ke depan semakin banyak komoditas alternatif yang bisa diproduksi untuk memenuhi permintaan domestik maupun internasional.

Dengan strategi diversifikasi ini, PTPN I tidak hanya mengejar keuntungan, tapi juga ikut menjawab tantangan ketahanan pangan. Dari Lampung hingga Jepang, dari lahan cadangan hingga rak supermarket, edamame kini menjadi simbol baru transformasi perusahaan perkebunan pelat merah ini. (yad)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *