BERJAYANEWS.COM,-Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) sejak lama menjadi arena tarik-menarik antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam.
Ribuan hektare kawasan konservasi perlahan berubah menjadi kebun kopi dan lahan garapan. Dampaknya sudah terasa: banjir lebih sering, satwa liar masuk ke permukiman, dan ekosistem yang dulu tangguh kini berada di ujung tanduk.
Begitu Rahmat Mirzani Djausal (RMD) resmi memimpin Provinsi Lampung, persoalan ini langsung menuntut kehadirannya. Ia tidak hanya mewarisi masalah, tetapi juga ditantang untuk memutus rantai kerusakan yang berlangsung puluhan tahun.
Pendekatan Baru: Menertibkan Tanpa Menginjak Hak Warga
Alih-alih menerapkan penertiban cepat dengan pengerahan aparat, RMD memilih strategi yang lebih sistematis. Ia membentuk satuan tugas khusus yang fokus menyelesaikan akar persoalan—bukan hanya memindahkan warga lalu menganggap masalah selesai.
Satgas ini bekerja dengan mandat yang lebih luas: memetakan wilayah garapan, memastikan ketersediaan lahan relokasi, membuka peluang ekonomi baru bagi warga, hingga mendengarkan keberatan masyarakat. Pemerintah daerah menegaskan bahwa proses penataan kawasan harus tetap menghormati martabat warga yang sudah lama menggantungkan hidup pada lahan itu.(*)










