Example floating
Example floating
Bandar Lampung

Antara Digital dan Dalil: Resep Pancasila Ala Agus Djumadi

×

Antara Digital dan Dalil: Resep Pancasila Ala Agus Djumadi

Share this article
Anggota DPRD Kota Bandar Lampung, Agus Djumadi, saat memaparkan materi dalam Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (PIP-WK) di Kelurahan Gedung Meneng, Rajabasa, Minggu, (8/2/2026). (Foto: Adsza/Berjayanews.com)

BERJAYANEWS.COM — Di tengah gempuran algoritma media sosial yang kian individualis, narasi kebangsaan coba ditarik kembali ke akar rumput. Anggota DPRD Kota Bandar Lampung dari Fraksi PKS, Agus Djumadi, memilih “turun gunung” ke Kelurahan Gedung Meneng, Rajabasa, untuk merajut kembali benang merah antara agama dan negara pada Minggu, (8/2/2026).

Dalam balutan Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (PIP-WK), Agus membawa misi khusus: membedah harmoni Islam di dalam rahim Pancasila.

Baginya, mendudukkan perkara hubungan agama dan negara bukan sekadar rutinitas konstitusional, melainkan tameng menghadapi disrupsi digital yang mulai mengikis kohesi sosial.

Di hadapan ratusan tokoh agama dan pemuda yang menyemut di lokasi acara, Agus menegaskan bahwa Pancasila bukanlah teks mati yang cukup dihafal saat upacara Senin pagi.

“Islam tidak bertentangan dengan Pancasila. Justru nilai-nilai Pancasila banyak bersumber dari ajaran agama. Tantangan hari ini adalah bagaimana kita mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama di era digital yang penuh disrupsi,” ujarnya.

Baca Juga: Ketua Komisi III DPRD Bandar Lampung Beberkan Visi Kota Modern 2026

Agus memandang nilai-nilai seperti keadilan (’adalah), musyawarah (syura), dan persaudaraan (ukhuwah) yang menjadi napas Islam, secara otomatis adalah denyut nadi Pancasila.

Lebih jauh, ia menyoroti bagaimana arus globalisasi membawa serta “penumpang gelap” yang patut diwaspadai, mulai dari penetrasi paham ekstrem yang mereduksi toleransi, munculnya individualisme akut akibat ketergantungan pada gawai, hingga degradasi solidaritas di tengah masyarakat urban.

Agus Djumadi tampak ingin mengikis stigma lama yang membenturkan Islam dengan ideologi negara. Ia justru mendorong umat Islam menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan.

Penekanan pada moderasi beragama menjadi jalan tengah yang ia tawarkan untuk merespons dinamika sosial yang kian cair. Bagi legislator PKS ini, keluarga menjadi benteng terakhir dalam menghadapi perubahan zaman agar generasi muda tetap berpegang pada nilai-nilai luhur.

Targetnya jelas, yakni menjadikan Pancasila sebagai sikap hidup, bukan sekadar pajangan di dinding kantor kelurahan.

“Kami ingin masyarakat memahami bahwa Pancasila bukan sekadar hafalan, tetapi harus menjadi sikap hidup. Dengan menguatkan nilai Islam dalam bingkai Pancasila, kita bisa menciptakan kehidupan yang damai, adil, dan bermartabat,” pungkasnya.

(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *