Example floating
Example floating
Ruwai Jurai

Ikhtiar PKS Lampung Cetak Politisi Gen Z: Membendung Pragmatisme dengan Idealisme

×

Ikhtiar PKS Lampung Cetak Politisi Gen Z: Membendung Pragmatisme dengan Idealisme

Share this article
Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Provinsi Lampung, Ade Utami Ibnu. (Foto: dok/PKS Lampung).

BERJAYANEWS.COM —  Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Provinsi Lampung mulai serius membidik pemilih muda untuk masuk ke struktur politik formal. Tak sekadar merangkul, partai ini tengah berupaya menanamkan nilai-nilai idealisme di tengah gempuran tren gaya hidup pragmatis yang mengancam generasi masa depan.

Ketua DPW PKS Lampung sekaligus Wakil Ketua Komisi I DPRD Provinsi Lampung, Ade Utami Ibnu, mengungkapkan bahwa keterlibatan anak muda bukanlah hal baru bagi PKS. Menurutnya, sejak era Partai Keadilan hingga bertransformasi menjadi PKS, motor penggeraknya adalah anak muda di zamannya.

“Setiap kurun, setiap masa, ada anak-anak mudanya. Dulu waktu zaman reformasi saya masih muda, masih 23 tahun, masih seger-segernya. Nah, sekarang anak muda itu kita sebut Gen Z. Nilai-nilai kebaikan ini harus diwariskan kepada mereka,” ujar Ade saat ditemui di Sekretariat DPW PKS Lampung, Kedaton, Bandar Lampung, Minggu, (9/2/2026).

Ade menilai Gen Z memiliki insting yang tajam terhadap keadilan sosial. Mereka disebut memiliki “habitat” sendiri yang sangat menghargai kejujuran dan membenci ketimpangan.

“Mereka suka yang original. Kalau Anda berperilaku sudah di luar norma kewajaran, mereka juga nggak suka. Apalagi kalau mereka merasakan kok ada ketimpangan yang sangat jauh antara pejabat dengan rakyat, antara yang kaya dengan yang jelata. Kesenjangan itu mereka rasakan sehingga mereka suarakan itu. Dan itu murni suara hati nurani mereka,” kata Ade.

Meski mengapresiasi daya kritis Gen Z, Ade memberikan catatan terhadap potensi degradasi nilai yang mengintai generasi ini. Ia menegaskan pentingnya politik dibingkai oleh moral dan norma agar Indonesia tidak kehilangan arah. Ia mengkhawatirkan munculnya pemikiran yang apatis terhadap institusi sosial dan keluarga.

“Mau jadi apa negara kita kalau generasi mudanya kita biarkan hedon, pragmatis, kemudian apatis. Jangan sampai generasi berikutnya tidak kenal norma agama, tidak kenal norma keluarga. Coba bayangin kalau mereka sudah tidak mau berkeluarga,” tuturnya.

Bagi Ade, tantangan zaman saat ini sangat nyata dalam merusak pola pikir anak muda. “Nah kalau seperti itu, bahaya nggak negara kita? Bahaya. Ya apalagi kita kan sudah tahu tuh, anak muda dirusak sedemikian rupa,” tambahnya.

Baca Juga: Gen Z Butuh Ruang Aman, Yuni Karnelis Sentil Pemkot Bandar Lampung

Menyiapkan “Arus Baru” di Parlemen

Untuk mengawal idealisme tersebut, PKS Lampung memaksimalkan organisasi sayap seperti Garuda Keadilan dan PKS Muda. Ade memastikan anak muda tidak hanya dijadikan sebagai “pelengkap” atau penarik suara semata, tetapi juga ditempatkan sebagai pengurus inti di tingkat DPD hingga DPW.

Langkah ini merupakan bagian dari persiapan menuju pencalegan di pemilu mendatang. Ade menekankan bahwa PKS sangat selektif dalam mendorong kader muda ke parlemen agar mereka tidak sekadar menjadi “robot” sistem.

“Dari sekarang anak-anak muda dibekali nilai-nilai, pemahaman, dan pengetahuan. Kalau nggak dibekali, khawatir begitu anak muda masuk ke parlemen, kekuatan mereka belum siap, akhirnya kebawa sistem yang menghancurkan anak muda itu,” ungkap Ade.

Ia berharap, kader Gen Z yang nantinya duduk di kursi legislatif bisa membawa perubahan signifikan. “Kalau mereka sudah siap, mentalnya sudah kuat, pemikirannya sudah kokoh, maka ketika mereka masuk parlemen juga akan membawa arus baru yang lebih baik dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.”

(smd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *