BERJAYANEWS, PRINGSEWU, – Ditengah hantaman badai fiskal akibat penurunan dana transfer pusat yang mencapai 16 persen dalam dua tahun terakhir, Kabupaten Pringsewu justru mencatatkan performa gemilang. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bumi Jejama Secancanan sukses dipacu tumbuh sebesar 18 persen, sebuah sinyal kuat menuju kemandirian ekonomi daerah.
Pencapaian ini dipaparkan langsung oleh Bupati Pringsewu, Riyanto Pamungkas, dalam agenda Refleksi Satu Tahun Pemerintahan Riyanto–Umi yang digelar di Graha Pamungkas, Jumat (20/2/2026) malam.
Keluar dari Zona Nyaman Ketergantungan Pusat
Bupati Riyanto tidak menampik bahwa kondisi fiskal Pringsewu saat ini sedang diuji. Ketergantungan terhadap dana pusat masih tergolong tinggi, yakni di atas 80 persen dari total APBD. Namun, penurunan dana transfer sebesar 16 persen tidak dijadikan alasan untuk jalan di tempat.
“Dana transfer terus merosot, ini tantangan serius. Tapi kita tidak boleh menyerah pada keadaan. Pertumbuhan PAD sebesar 18 persen adalah bukti bahwa kita mulai mampu mengoptimalkan potensi sektor unggulan dan memperbaiki pelayanan publik secara mandiri,” tegas Riyanto di hadapan tamu undangan.
Efisiensi dan Penyesuaian Strategis
Sebagai dampak dari penyesuaian fiskal, belanja modal Kabupaten Pringsewu memang mengalami fluktuasi tajam. Setelah sempat naik menjadi Rp142,7 miliar pada 2025, angkanya terkoreksi menjadi Rp58,1 miliar pada tahun 2026.
Meski belanja modal berkurang sekitar 59,3 persen, Bupati Riyanto memastikan bahwa program-program yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat tidak akan dikorbankan.
“Kita harus adaptif dan melakukan efisiensi ketat. Kuncinya adalah kolaborasi dan inovasi kebijakan. Meskipun fiskal terbatas, pelayanan dasar dan program prioritas dalam visi Pringsewu Makmur (Mandiri, Aman, Kondusif, Maju, Unggul, Religius) tetap berjalan di garda terdepan,” imbuhnya.
Optimisme Kemandirian
Dalam refleksi satu tahun kepemimpinannya bersama Wakil Bupati Umi Laila, Riyanto menekankan bahwa target utama ke depan adalah meningkatkan rasio kemandirian keuangan daerah. Penguatan kapasitas fiskal akan terus digenjot melalui kolaborasi dengan berbagai pihak dan penggalian potensi lokal yang selama ini belum terjamah.
“Bersama bergerak dan berkolaborasi, kita optimistis bisa mewujudkan Pringsewu yang lebih mandiri. Kita buktikan bahwa Pringsewu bisa tetap tumbuh meski di tengah tekanan anggaran pusat,” pungkasnya. (Tin)












