Bukan Bali atau Labuan Bajo, Geoffrey Kent Pilih Lampung sebagai Satu-satunya Persinggahan di Indonesia

Bukan Bali atau Labuan Bajo, Geoffrey Kent Pilih Lampung sebagai Satu-satunya Persinggahan di Indonesia

BANDAR LAMPUNG — Lampung menjadi satu-satunya destinasi di Indonesia yang disinggahi pendiri perusahaan perjalanan mewah Abercrombie & Kent (A&K), Geoffrey Kent, dalam ekspedisi keliling dunia menggunakan jet pribadi selama 24 hari.

Bersama 48 tamu, Geoffrey Kent mengunjungi Lampung pada 10–12 Oktober 2026. Persinggahan tersebut merupakan bagian dari perjalanan bertajuk Around the World with Geoffrey Kent: An Inspiring Expedition by Private Jet, yang dimulai dari Los Angeles dan berakhir di Boston, Amerika Serikat.

Informasi yang disampaikan The Hurun dalam siaran pers tertanggal 19 Oktober 2026 itu menyebutkan, rombongan menggunakan pesawat Boeing 757 yang dirancang khusus untuk perjalanan mewah. Harga perjalanan tersebut mulai dari US$198.500 per orang, atau setara sekitar Rp3,6 miliar berdasarkan nilai konversi yang dicantumkan dalam siaran pers.

Dalam rangkaian perjalanan yang melintasi lima benua itu, Lampung dipilih sebagai persinggahan di Indonesia, di tengah sejumlah destinasi internasional seperti Kepulauan Cook, Australia, India, Mozambik, Pantai Gading, dan Madeira.

Menikmati Alam dan Budaya Lampung

Pemilihan Lampung memperlihatkan potensi daerah di ujung selatan Sumatra tersebut sebagai destinasi wisata yang menawarkan perpaduan alam, budaya, dan pengalaman perjalanan yang berbeda.

Lampung memiliki beragam daya tarik, mulai dari kawasan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, pulau-pulau di Teluk Lampung, perkebunan kopi robusta, hingga kain tapis yang menjadi salah satu warisan budaya masyarakat setempat.

Selain itu, Lampung memiliki Taman Nasional Way Kambas yang dikenal sebagai kawasan konservasi satwa liar, termasuk gajah Sumatra dan badak Sumatra.

Nilai budaya masyarakat Lampung turut menjadi bagian dari daya tarik tersebut. Falsafah piil pesenggiri, termasuk nilai nemui nyimah yang berkaitan dengan sikap terbuka dan penghormatan terhadap tamu, menjadi salah satu identitas masyarakat setempat.

Lampung Marriott Resort & Spa Jadi Tempat Menginap
Selama berada di Lampung, Geoffrey Kent dan rombongan menginap di Lampung Marriott Resort & Spa yang berada di kawasan pesisir Teluk Lampung.

Menurut siaran pers The Hurun, resor tersebut menjadi tempat beristirahat sekaligus ruang bagi rombongan untuk mengenal kebudayaan Lampung melalui sajian kuliner khas, penampilan musisi daerah, dan pertunjukan tari tradisional.

Rombongan disambut dengan Tari Sigeh Pengunten, tarian penyambutan tamu khas Lampung. Mereka juga menyaksikan dua karya yang diperkenalkan sebagai garapan baru tim The Hurun, yakni Tari Kejayaan Emas Swarnadwipa dan Muda-Mudi Dendang Ketipung Lampung.

Kabar kunjungan tersebut pertama kali dibagikan Selphie Bong, yang akrab disapa Ms Bong, salah satu pendiri The Hurun, kawasan wisata di pesisir Teluk Lampung.

“Kami tidak sedang berusaha menjadi Bali berikutnya. Lampung punya ceritanya sendiri,” kata Ms Bong dalam siaran pers tersebut.

Ia menyampaikan bahwa Lampung memiliki kekhasan berupa alam yang dijaga, tradisi pembuatan kain tapis, serta budaya masyarakat dalam menyambut tamu. Ia juga mengungkapkan rasa syukur karena kekayaan tersebut dapat diperkenalkan kepada rombongan wisatawan internasional.

Geoffrey Kent Sampaikan Apresiasi
Setelah kunjungan tersebut, Geoffrey Kent menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diterimanya di Lampung melalui komentar di media sosial.

“Terima kasih telah menjadi tuan rumah yang luar biasa. Tim Anda sungguh luar biasa; sedih rasanya harus berpamitan. Tapi kami akan kembali! Salam dari Otavia, saya, dan para tamu kami,” tulis Kent.

Otavia merupakan istri Geoffrey Kent.

Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi pariwisata Lampung kepada wisatawan dari kalangan perjalanan mewah internasional. Meski demikian, dampak kunjungan terhadap peningkatan jumlah wisatawan dan perekonomian daerah masih memerlukan data lanjutan.

Bagi wisatawan yang ingin menjelajahi destinasi serupa, Lampung Marriott Resort & Spa dapat menjadi salah satu titik awal untuk mengunjungi Teluk Lampung, kawasan Krakatau, dan Taman Nasional Way Kambas.

Siapa Geoffrey Kent?
Geoffrey Kent lahir pada 14 Juli 1942 di Rhodesia Utara, wilayah yang kini menjadi Zambia, ketika kedua orang tuanya sedang melakukan perjalanan safari. Ia kemudian tumbuh besar di Kenya.

Saat berusia 16 tahun, Kent melakukan perjalanan dengan sepeda motor seorang diri dari Nairobi menuju Cape Town, Afrika Selatan, sejauh lebih dari 8.000 kilometer.

Setelah menempuh pendidikan di Akademi Militer Kerajaan Sandhurst dan sempat bertugas di Angkatan Darat Inggris, Kent mendirikan Abercrombie & Kent bersama orang tuanya, Kolonel John Kent dan Valerie Kent, di Kenya pada 1962.

Ia dikenal sebagai salah satu pelopor perjalanan safari fotografi mewah di Afrika. Pada 1989, Kent turut merintis perjalanan wisata menggunakan jet pribadi.

Di luar industri perjalanan, ia pernah menjadi kapten tim polo yang dua kali menjuarai U.S. Open dan bermain dalam satu tim bersama Raja Charles III. Pada 1982, ia juga ikut mendirikan Abercrombie & Kent Philanthropy, organisasi yang mendukung pelestarian alam liar dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Kent merupakan anggota pendiri World Travel & Tourism Council (WTTC) dan pernah menjabat sebagai ketuanya selama enam tahun. Saat ini, ia menyandang posisi Founder dan Chairman Emeritus Abercrombie & Kent serta Konsul Kehormatan Republik Kenya di Monako.

Kisah hidupnya dituangkan dalam memoar Safari: A Memoir of a Worldwide Travel Pioneer dan buku The Greatest Adventurer.

Persinggahan Geoffrey Kent dan rombongan di Lampung menambah catatan promosi destinasi daerah di tingkat internasional. Tantangan berikutnya adalah memastikan potensi alam dan budaya tersebut dapat dikembangkan secara berkelanjutan serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *