Example floating
Example floating
Bandar LampungBudaya & Humaniora

“Dari Sumedang ke Bandar Lampung, Kisah Deden Rawat Warisan Tahu Legendaris”

×

“Dari Sumedang ke Bandar Lampung, Kisah Deden Rawat Warisan Tahu Legendaris”

Share this article
Dari Sumedang ke Lampung, dari tradisi jadi inspirasi. Mas Deden tetap setia 15 tahun meracik tahu Sumedang untuk pelanggan setia

DI balik gurih dan renyahnya tahu Sumedang yang kerap jadi teman makan atau sekadar camilan, tersimpan kisah perjuangan seorang perantauan muda bernama Deden.

Pria berusia 30 tahun ini merintis usahanya sejak 2010, tak lama setelah ia dan keluarganya hijrah dari tanah kelahirannya, Sumedang, Jawa Barat, ke Bandar Lampung.

Berbekal keahlian keluarga yang turun-temurun, Deden memberanikan diri membuka warung tahu Sumedang pertamanya di kawasan Rajabasa, Bandar Lampung.

“Tahu Sumedang ini kan legendaris, pertama kali ditemukan Ong Kino di awal abad ke-20. Saya ingin melanjutkan tradisi itu, tapi dengan sentuhan modern di Lampung,” ungkapnya saat ditemui wartawan berjayanews awal September 2025.

Kini, setelah 15 tahun berjalan, usaha tahu Sumedang milik Deden yang berlokasi di Jl. Imam Bonjol No. 512, Langkapura, Kemiling telah berkembang pesat.

Ia sudah memiliki tempat produksi sendiri, mengantongi sertifikat halal serta izin usaha resmi dari pemerintah kota.

“Penting ada sertifikat halal dan izin. Itu soal kepercayaan masyarakat,” tambahnya.

7 Karyawan

Saat ini, Deden mempekerjakan tujuh karyawan tiga orang di dapur produksi tahu goreng dan empat orang di produksi tahu mentah yang berjarak sekitar 100 meter dari warung.

Dari sana, setiap harinya mereka mampu menghasilkan rata-rata 5.000 potong tahu.

Dengan harga Rp800 per potong, omzet kotor bisa mencapai lebih dari Rp4 juta per hari. Setelah dikurangi biaya produksi, keuntungan bersih yang ia kantongi sekitar Rp1,6 juta, atau 40 persen dari omzet harian.

Dari Sumedang ke Lampung, dari tradisi jadi inspirasi. Mas Deden tetap setia 15 tahun meracik tahu Sumedang untuk pelanggan setia dan memiliki toko di jalan Imam Bonjol Langkapura

Namun, perjalanan usaha ini tidak selalu mulus. Pandemi Covid-19 sempat menekan penjualan secara drastis antara 2019 hingga 2023.

“Waktu itu memang berat, tapi saya tetap menjaga hak karyawan. Mereka tetap dapat Rp100 ribu per hari,” tegas Deden.

Seiring pulihnya aktivitas masyarakat, omzet perlahan kembali naik pada 2024 hingga kini.

Meski belum sepenuhnya menyamai kondisi sebelum pandemi, usaha tahu Sumedang Mas Deden tetap bertahan dan terus mendapat pelanggan setia.

Dengan konsistensi menjaga kualitas rasa dan pelayanan, Deden berharap usahanya bisa berkembang lebih besar lagi.

Baginya, tahu Sumedang bukan sekadar bisnis, melainkan warisan budaya kuliner yang layak dijaga dan dikenalkan ke lebih banyak orang. (Ferdy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *