Bandar Lampung, Berjayanews.com – Menjelang pemilihan rektor UIN Raden Intan Lampung periode 2026-2030, sejumlah mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung menyuarakan harapan mereka.
Beberapa mahasiswa ingin kampus UIN RIL dipimpin sosok rektor yang benar-benar peduli terhadap aspirasi mahasiswa dan tidak “buta serta tuli” terhadap persoalan internal kampus.
UIN Raden Intan Lampung tengah memasuki tahapan pemilihan rektor periode 2026–2030. Seperti universitas negeri lainnya di Indonesia, masa jabatan rektor UIN RIL berlangsung selama empat tahun dan dapat diperpanjang satu kali masa jabatan.
Kontestasi kali ini terbilang cukup menarik karena diikuti 10 nama calon rektor, baik dari internal 8 orang maupun eksternal kampus 2 orang.
Mereka telah lolos tahap penjaringan dan verifikasi administrasi. Berikut daftar nama bakal calon rektor UIN RIL periode 2026–2030:
Prof. Dr. Fitri Yanti, M.A. – Guru Besar Ilmu Komunikasi, UIN RIL
Prof. Drs. Sudarman, M.Ag. – Guru Besar Ilmu Perbandingan Agama, UIN RIL
Prof. Syafrimen, M.Ed., Ph.D. – Guru Besar Psikologi Pendidikan, UIN RIL
Prof. Dr. Ruslan Abdul Ghofur, M.Si. – Guru Besar Ekonomi Islam, UIN RIL
Prof. H. Wan Jamaluddin Z., M.Ag., Ph.D. – Guru Besar Sejarah Peradaban Islam, UIN RIL (Rektor periode 2022–2026)
Prof. Dr. H. Alamsyah, S.Ag., M.Ag. – Guru Besar Ilmu Hadis, UIN RIL
Prof. Dr. H. Syaripudin, M.Ag. – Guru Besar Pemikiran Politik dan Peradaban Islam, UIN RIL
Prof. Dr. Mohammad Muhassin, S.S., M.Hum. – Guru Besar Bahasa Inggris, UIN RIL
Prof. Dr. Siti Nurjanah, M.Ag. – Guru Besar Hukum Keluarga Islam, UIN Jurai Siwo Lampung
Prof. Dr. Suhairi, S.Ag., M.H. – Guru Besar Hukum Islam, UIN Jurai Siwo Lampung
View this post on Instagram
Mahasiswa berharap, rektor terpilih nanti mampu menjadi pemimpin yang transparan dan responsif terhadap keluhan civitas akademika.
“Kami sangat mengharapkan sosok rektor baru yang mau mendengarkan aspirasi mahasiswa dan terbuka terhadap kritik,” ujar salah satu mahasiswa semester 3 yang minta namanya tidak dipublikasikan saat ditemui wartawan berjayaNews, Kamis (7/11/2025).
Keluhan mahasiswa terhadap kinerja rektor sebelumnya cukup beragam. Sebagian menilai kepemimpinan saat ini belum mampu mengendalikan berbagai persoalan internal kampus.
Beberapa mahasiswa lainnya mengaku masih menemukan praktik dugaan pungli di lingkungan akademik.
“Kami ingin rektor mengusut tuntas oknum yang meminta uang Rp500 ribu untuk sidang atau meminta mahasiswa menyediakan makanan saat bimbingan skripsi,” ungkap mahasiswa semester 5 ini.
Selain masalah etika akademik, mahasiswa juga menyoroti pengelolaan anggaran kampus yang dianggap tidak efektif dan tidak sejalan dengan instruksi Presiden mengenai efisiensi dan transparansi anggaran diantaranya keluhan soal permintaan makanan saat bimbingan skripsi oleh oknum-oknum dosen UIN RIL juga banyak disampaikan sejumlah mahasiswa UIN di akun medosos Tiktok berjayanews.
“Pengennya rektor yang bisa nerima komenan mahasiswa sebagai evaluasi, apalagi soal bimbingan yang mewajibkan mahasiswa membawa makanan.”
Komentar tersebut langsung disambut ratusan tanggapan dari pengguna lain. Seorang pengguna akun bernama @tttt menuliskan,
“Temen-temenku banyak yang nangis karena pas dia gak ada duit sama sekali, kuliah sambil kerja, tapi disuruh beli kopi dulu sebelum ketemu dosen.”
Akun lainnya, @mel’s, juga mengaku hal serupa kerap terjadi.
“Temen-temenku banyak yang tiap bimbingan dimintain makanan, nasi padang, roti, bahkan cuma minta tanda tangan aja harus nurutin maunya dosen. Ada yang minta nasi kebuli dan masih banyak lagi. Ya mungkin oknum sih, tapi tetap gak wajar,” tulisnya.
Banyak mahasiswa lain ikut membenarkan adanya praktik tersebut, meski sebagian menyebut tidak semua dosen berlaku demikian. “Kalau apes dapat pembimbing yang kayak gitu, ya udah biasa. Tapi ada juga yang nggak minta, cuma agak dipersulit,” tulis akun @qtelbal.
Fenomena ini menjadi sorotan menjelang pemilihan rektor baru. Mahasiswa berharap pimpinan mendatang bisa menindak tegas praktik tidak etis di lingkungan akademik serta membuka ruang dialog dua arah antara mahasiswa dan dosen.
“Kami ingin rektor yang tidak menutup mata dan telinga terhadap suara mahasiswa. Kritik itu bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk memperbaiki,” ujar salah satu mahasiswa UIN RIL saat diwawancarai BerjayaNews, Jumat (7/11/2025).
Namun Sayangnya hingga berita ini diturunkan, pihak Humas UIN RIL, Novrizal Fahmi, belum dapat dimintai keterangan terkait kabar tersebut.
Novrizal Fahmi yang beberapa kali dihubungi mengaku sedang sibuk dengan sejumlah aktifitasnya. (FRD)











