BANDAR LAMPUNG — Tragedi hanyutnya dua mahasiswi di kawasan wisata Wira Garden, Bandar Lampung, memicu kritik tajam dari kalangan akademisi.
Pengamat Lingkungan Universitas Lampung (Unila), Zainal Abidin, menegaskan bahwa insiden maut ini harus menjadi alarm keras bagi seluruh pengelola wisata alam di Lampung.
Zainal menyampaikan duka mendalam sekaligus evaluasi kritis terkait manajemen risiko di lokasi wisata air. Menurutnya, berwisata di aliran sungai saat cuaca ekstrem memiliki risiko tinggi yang sering kali diremehkan.
“Di tengah cuaca yang tidak pasti, berwisata di pinggir sungai memiliki risiko tak terduga. Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lokasi wisata alam adalah harga mati,” tegas Zainal kepada berjayanews Jumat (3/4/2026).
Zainal menyoroti bahwa fasilitas K3 di lokasi wisata air seperti Wira Garden tidak boleh hanya bersifat pasif. Ia menilai keberadaan papan bicara atau rambu peringatan saja tidak cukup untuk menjamin nyawa pengunjung.
Menurutnya, pengelola wajib menerapkan langkah aktif, di antaranya menyediakan tim evakuasi yang siaga 24 jam di titik rawan, penjaga keselamatan yang paham karakter arus sungai serta ketersediaan pelampung, tali penyelamat, dan alat komunikasi darurat.
“Pengelola wajib menerapkan langkah aktif, di antaranya menyediakan tim evakuasi yang siaga 24 jam di titik rawan, penjaga keselamatan yang paham karakter arus sungai, serta ketersediaan pelampung, tali penyelamat, dan alat komunikasi darurat,” tegas guru besar UZainal Abidin.
Zainal berharap tragedi ini menjadi pelajaran pahit bagi industri pariwisata di Lampung. Ia mendesak pemerintah daerah dan dinas terkait untuk mengaudit kembali izin serta sistem keamanan lokasi wisata yang bersentuhan langsung dengan alam liar.
“Kejadian ini harus menjadi pelajaran berharga. Jangan sampai ada lagi nyawa yang hilang hanya karena kelalaian dalam menyediakan sistem keamanan yang memadai,” pungkasnya. (abs)












