BERJAYANEWS.COM – Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Bandar Lampung menegaskan bahwa peningkatan angka temuan kasus HIV di wilayah tersebut bukan merupakan kondisi darurat kesehatan. Sebaliknya, fenomena ini dinilai sebagai bukti keberhasilan strategi deteksi dini dan sistem pelacakan yang berjalan masif.
Kepala Dinas Kesehatan Bandar Lampung, Muhtadi A. Temenggung, menyatakan bahwa pihaknya saat ini tengah gencar melakukan pendekatan jemput bola dengan menyasar langsung kelompok berisiko. Strategi ini diklaim efektif dalam membuka kasus-kasus lama yang sebelumnya tidak terdeteksi.
“Ini bagian dari upaya membuka kasus yang sebelumnya tersembunyi. Jadi masyarakat tidak perlu panik. Justru semakin banyak yang teridentifikasi, semakin besar peluang kita memutus rantai penularan,” ujar Muhtadi pada Jumat (24/4/2026).
Efektivitas pelacakan ini tercermin dari capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) penapisan HIV di Bandar Lampung yang telah menembus angka 119 persen, melampaui target yang ditetapkan.
Skrining difokuskan pada delapan kelompok indikator utama, meliputi:
-
Ibu hamil dan penderita TBC.
-
Penderita Infeksi Menular Seksual (IMS).
-
Wanita Pekerja Seksual (WPS) dan Lelaki Seks Lelaki (LSL).
-
Waria dan Pengguna Narkoba Suntik (Penasun).
-
Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Dari hasil penjangkauan aktif tersebut, tercatat sebanyak 227 kasus reaktif ditemukan pada kelompok LSL. Menanggapi data ini, dr. Liskha menjelaskan bahwa kenaikan angka tersebut adalah konsekuensi logis dari perluasan akses layanan kesehatan.
“Artinya, orang-orang yang membutuhkan pengobatan kini sudah masuk dalam sistem layanan untuk ditangani secara medis,” jelas dr. Liskha.
Untuk menangani temuan kasus tersebut, Pemkot Bandar Lampung menerapkan strategi Fast Track 95-95-95. Program ini bertujuan memastikan 95% ODHIV (Orang dengan HIV) terdiagnosis, 95% di antaranya mendapatkan terapi Antiretroviral (ARV), dan 95% dari mereka mencapai supresi virus.
Saat ini, sebanyak 31 Puskesmas di seluruh Bandar Lampung telah dilengkapi dengan layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP).
“Pasien yang disiplin menjalani terapi dapat menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi. Dalam kondisi itu, kualitas hidup mereka tetap baik dan risiko penularan menjadi sangat rendah,” tambah Muhtadi.
Selain pengobatan, pencegahan diperkuat melalui program Triple Eliminasi (HIV, Sifilis, dan Hepatitis) bagi ibu hamil secara gratis. Diskes juga menggandeng berbagai pihak mulai dari Dinas Pariwisata, aparat keamanan, tokoh agama, hingga komunitas Indonesia AIDS Coalition (IAC) untuk melakukan edukasi di lokasi khusus, termasuk tempat hiburan malam.
Pihak Pemkot menjamin kerahasiaan identitas pasien dijaga secara ketat guna menghindari stigma sosial. Masyarakat juga diimbau untuk tidak termakan hoaks terkait cara penularan.
Dinas Kesehatan menegaskan bahwa HIV tidak menular melalui:
-
Sentuhan atau pelukan.
-
Berbagi alat makan.
-
Percakapan atau penggunaan fasilitas umum bersama.
Penularan hanya terjadi melalui kontak darah, hubungan seksual tidak aman, dan transmisi ibu ke bayi. Dengan penguatan deteksi dan layanan pengobatan ini, Pemkot Bandar Lampung optimistis dapat mencapai target eliminasi HIV pada tahun 2030 mendatang.
(*)












