BANDAR LAMPUNG — Unggahan Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana, di akun Instagram resminya @eva_dwiana mendadak ramai dibanjiri komentar warganet.
Lebih dari 150 komentar dan dua ribu likes memenuhi kolom tanggapan yang diunggah pada Minggu (2/11/2025).
Namun di balik sapaan dan pujian, muncul keluhan keras warga terkait kelangkaan stok vaksin rabies di sejumlah puskesmas.
Salah satu akun bernama @sarisihite_ menuliskan curhatan panjang yang menyita perhatian publik.
“Bunda, vaksin rabies kosong di puskesmas. Ponakan saya digigit anjing minggu lalu, hari ini jadwal vaksin ke-2. Kami sudah ke Puskesmas Kota Karang dan Kedaton, semuanya kosong. Di RS Dadi juga sudah dua bulan tidak ada stok. Kata petugas Dinkes memang kosong dan belum ada solusi. Kalau orang tidak punya dana, apa harus pasrah saja, Bunda? Mohon ditindaklanjuti,” tulisnya.
Sekitar tiga jam kemudian, akun pengaduan resmi @lapor_bundaeva membalas singkat,
“Baik Bu, segera ditindaklanjuti.”
Namun balasan tersebut tak meredam keresahan publik. Banyak warganet lain mempertanyakan ketersediaan vaksin di tengah tingginya kasus gigitan hewan penular rabies (HPR) di kota ini.
Pemerintah Klaim Nol Kasus Rabies pada Manusia
Kepala Dinas Kesehatan Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Tumenggung, menyatakan bahwa tidak ada kasus rabies pada manusia sepanjang tahun 2025.
“Hingga kini manusia yang terpapar rabies tidak ada di Kota Bandar Lampung,” ujarnya dikutip dari Antara, Kamis (9/10/2025).
Namun, ia juga mengungkapkan bahwa terdapat 546 kasus gigitan HPR terhadap manusia selama tahun 2025.
“Kasus gigitan itu seluruhnya telah ditangani sesuai prosedur, dan belum ditemukan transmisi rabies ke manusia,” katanya.
Dari total kasus tersebut, gigitan kucing mendominasi dengan 404 kasus, diikuti anjing (114 kasus) dan kera (28 kasus).
Klaim Antisipasi vs Realita di Lapangan
Dinkes mengklaim telah mengantisipasi penyebaran rabies dengan menunjuk tujuh puskesmas sebagai Rabies Center, yakni:
Puskesmas Satelit, Way Kandis, Kedaton, Panjang, Kota Karang, Sukabumi, dan Kemiling.
“Diharapkan masyarakat yang mengalami gigitan HPR dapat segera ditangani sehingga tidak menular ke manusia,” jelas Muhtadi.
Namun, kenyataan di lapangan berbeda. Warga seperti @sarisihite_ mengaku telah mendatangi tiga dari tujuh puskesmas rujukan — Kota Karang, Kedaton, dan RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo — tetapi semuanya kehabisan stok vaksin.
Ironi Nol Kasus dan Vaksin Kosong
Situasi ini menimbulkan pertanyaan publik: bagaimana mungkin pemerintah mengklaim nol kasus rabies jika vaksin pencegahannya justru langka?
Kekosongan vaksin di tengah tingginya kasus gigitan HPR menjadi ironi dalam upaya pengendalian rabies.
Padahal, vaksin rabies adalah satu-satunya cara pencegahan efektif setelah seseorang tergigit hewan terduga rabies. Tanpa akses cepat terhadap vaksin, warga hanya bisa bergantung pada nasib.
Sementara pemerintah berjanji akan menindaklanjuti keluhan ini, publik menunggu langkah nyata agar krisis vaksin rabies di Bandar Lampung segera diatasi — sebelum “nol kasus” yang dibanggakan berubah menjadi ancaman baru bagi kesehatan masyarakat. (Asa)













