Rektor UML, Dr. Mardiana, dalam sambutannya menekankan bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal pengabdian di tengah masyarakat. Ia mengingatkan para lulusan agar menjadikan ilmu sebagai sarana kemanusiaan. “Ilmu tanpa iman hanya akan menjadi alat kekuasaan yang tidak berintegritas. Maka jadilah manusia yang bermanfaat bagi sesama,” ujar Mardiana di hadapan para wisudawan.
Salah satu momen paling menyentuh dalam wisuda tersebut adalah kelulusan Dominggas Abuk Seran, seorang biarawati Katolik yang menyelesaikan studi S1 Pendidikan Luar Biasa di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UML. Kehadirannya mencerminkan wajah pendidikan inklusif yang membuka ruang belajar lintas latar belakang agama dan budaya.
Dominggas mengaku awalnya menyimpan keraguan saat pertama kali menapakkan kaki di kampus Islam tersebut. “Saya sempat bertanya dalam hati, apakah saya akan diterima? Apakah jubah seorang biarawati akan dianggap aneh?” tuturnya mengenang hari-hari awal perkuliahan di UML.
Namun, keraguan itu perlahan sirna. Ia justru menemukan lingkungan akademik yang ramah dan penuh penghargaan terhadap perbedaan. “Saya tidak pernah ditanya apa agama saya, tetapi disambut sebagai saudara. Di sini, perbedaan bukan jurang, melainkan kekuatan,” kata Dominggas.
Menurutnya, UML tidak hanya menerapkan toleransi sebagai slogan, tetapi benar-benar hidup dalam praktik keseharian kampus. Ia juga menuturkan pengalaman saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN), di mana mahasiswa dari latar belakang berbeda mampu bekerja sama tanpa memperdebatkan keyakinan masing-masing. “Kami menemukan satu titik temu, yaitu kemanusiaan,” ujarnya.
Dominggas berharap kisahnya dapat menjadi pesan bahwa pendidikan seharusnya menjadi ruang persaudaraan dan pengabdian. “Kampus UML mengajarkan saya bahwa saya tidak harus menjadi serupa untuk diterima. Cukup menjadi tulus dan peduli pada sesama,” pungkasnya.(RLS)