Example floating
Example floating
News

RSUD Abdul Moeloek Lampung Raih Juara 1 Nasional, Ungkap Kasus Diagnosis Anemia Pasien HIV

×

RSUD Abdul Moeloek Lampung Raih Juara 1 Nasional, Ungkap Kasus Diagnosis Anemia Pasien HIV

Share this article
dr. Yusuf Aulia Rahman, Sp.PD (batik cokelat) & dr. Juspeni K., Sp.PD (kerudung biru) di depan poster ilmiah RSUDAM peraih Juara 1 Nasional Lomba Poster Case Report di Rakernas PERHOMPEDIN 2026. | Foto: dok.pribadi

BERJAYANEWS.COM — Tim dokter spesialis dari RSUD Dr. H. Abdul Moeloek (RSUDAM) Provinsi Lampung sukses meraih predikat Juara 1 Lomba Poster Kategori Case Report dalam ajang Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PERHOMPEDIN 2026.

Agenda ilmiah nasional yang digelar bersamaan dengan forum Sepur Joglo HOME-BASE ini berlangsung di Grand Mercure Solo Baru, Sukoharjo, Jawa Tengah, Minggu, (5/7/2026).

Penelitian ilmiah yang disusun oleh Yusuf Aulia Rahman bersama tim ahli RSUDAM ini menyoroti kasus penting bertajuk “Severe Haemolytic Anemia in Advanced HIV Patient Initially Diagnosed as AIHA: A Case Report of Cotrimoxazole-Induced Hemolysis in G6PD Deficiency“.

Laporan kasus tersebut memaparkan perjalanan klinis seorang pasien pria berusia 42 tahun dengan kondisi HIV stadium lanjut dan TB Limfadenitis.

Pasien awalnya didiagnosis menderita penyakit autoimun Autoimmune Hemolytic Anemia (AIHA) karena tes antibodi menunjukkan hasil positif.

Akibatnya, pasien diberikan obat penekan imun dosis tinggi, namun kondisi sel darah merahnya justru kian memburuk hingga kadar hemoglobin (Hb) anjlok drastis ke angka kritis 2.6 g/dL.

Ketajaman analisis tim dokter RSUDAM akhirnya berhasil mengungkap bahwa pasien sebenarnya mengalami efek samping keracunan obat akibat kelainan enzim bawaan, yaitu defisiensi G6PD Kelas B.

Obat Cotrimoxazole yang dikonsumsi pasien sebagai terapi profilaksis HIV rupanya memicu stres oksidatif kuat yang merusak sel darah merah dan menghasilkan status positif palsu (false-positive) pada tes antibodi sebelumnya.

Setelah obat Cotrimoxazol dan seluruh terapi imunosupresan dihentikan total pada minggu ke-28, kondisi pasien membaik secara alami hingga kadar Hb melonjak normal ke angka 12.6 g/dL pada minggu ke-32.

Melalui temuan berharga ini, tim peneliti RSUDAM merekomendasikan protokol kesehatan baru berskala nasional.

Dokter disarankan untuk selalu mencurigai potensi defisiensi G6PD jika terjadi anemia hemolitik pasca-pemberian obat golongan sulfonamida, melakukan evaluasi cepat jika terapi imunosupresan gagal dalam 4 hingga 8 minggu, serta menerapkan skrining G6PD sebelum pemberian Cotrimoxazole pada program HIV di Indonesia.

Prestasi ini menjadi bukti nyata kontribusi besar para dokter RSUDAM Lampung dalam meningkatkan keselamatan pasien dan kemajuan dunia kedokteran tanah air.

(sd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *