Example floating
Example floating
Bandar Lampung

Detti Febrina: Isu ‘Body Shaming’ Lebih Ampuh Kenalkan Pancasila ke Gen Z

×

Detti Febrina: Isu ‘Body Shaming’ Lebih Ampuh Kenalkan Pancasila ke Gen Z

Share this article
Narasumber PIP Detti Febrina memaparkan materi sosialisasi Ideologi Pancasila bagi Gen Z di Bakung, Bandar Lampung, Sabtu (7/2/2026). (Foto: Adsza/Berjayanews.com)

BERJAYANEWS.COM — Bagaimana cara membuat nilai-nilai Pancasila “masuk” ke kepala anak muda zaman now? Jawabannya bukan dengan metode hafalan kaku ala penataran zaman dulu. Hal ini ditegaskan oleh Narasumber Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (PIP-WK), Detti Febrina, dalam agenda sosialisasi yang digagas oleh Anggota DPRD Kota Bandar Lampung, Yuni Karnelis, di Bakung , Kecamatan Teluk Betung Barat, pada Sabtu, (07/02/2026).

Detti mengapresiasi langkah Yuni Karnelis yang berani menghadirkan audiens spesifik anak muda—sebuah pemandangan yang menurutnya langka dalam sosialisasi kebangsaan.

“Problemnya sekarang, bagaimana membuat tema kenegaraan itu tetap relate. Tidak bisa pakai metode zaman dulu yang cuma hafalan. Kita harus masuk lewat apa yang mereka rasakan,” ujar Detti.

Ia mencontohkan pendekatan unik: mengaitkan Pancasila dengan isu di media sosial seperti body shaming.

“Misalnya soal body shaming, itu kan sebenarnya isu kemanusiaan (Sila ke-2). Topik seperti ini jauh lebih ‘kena’ di hati mereka dibanding teori yang jauh dari realitas,” tambahnya.

Menutup diskusinya, Detti Febrina kembali mengingatkan bahwa tantangan terbesar Gen Z adalah ego mereka sendiri.

“Gen Z itu cerdas, tapi kalau tidak dikelola dengan mencintai ilmu, bonus demografi bisa berbahaya,” katanya.

Anggota DPRD Bandar Lampung Yuni Karnelis memberi motivasi kepada anak muda saat sosialisasi PIP-WK di Bakung, Sabtu (7/2/2026).(Foto: Adsza/Berjayanews.com)

Ia juga berharap pemerintah, khususnya Pemerintah Kota Bandar Lampung, dapat memberikan ruang yang lebih substantif bagi anak muda.

“Libatkan mereka dalam masalah konkret seperti sampah atau banjir. Jangan hanya formalitas, jadikan mereka inspirator perubahan,” pungkas Detti.

Sementara itu, di hadapan para peserta yang hadir, Yuni Karnelis memberikan motivasi tajam mengenai mentalitas yang harus dibangun oleh anak muda di tengah era digital.

“Konsistensi dan disiplin harus dimiliki anak muda saat ini. Dua hal itu supaya menjadi modal berimprovisasi dalam hidup, serta menjadi pelopor dalam meningkatkan perubahan di daerahnya,” tegas Yuni.

Menurut Yuni, kecerdasan bermedia sosial tanpa dibarengi kedisiplinan diri hanya akan menjadi sia-sia. Gen Z diharapkan mampu mengambil peran aktif memajukan wilayahnya, bukan sekadar menjadi penonton.

(wn/sd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *