BERJAYANEWS.COM, LAMPUNG – Di tengah gempuran mesin industri, kain Tapis Lampung tetap berdiri tegak sebagai simbol identitas budaya yang luhur. Asri Tapis Lampung hadir sebagai motor penggerak yang tidak hanya menjaga teknik manual menyulam benang emas (teknik cucuk), tetapi juga membawa wastra ini ke dalam gaya hidup modern.
Keistimewaan Asri Tapis terletak pada ketelitian para pengrajinnya yang menggunakan alat kayu tradisional bernama tekang. Karena dikerjakan sepenuhnya secara manual, pengerjaan satu helai kain bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, menjadikannya karya eksklusif yang unik satu sama lain. Asri Tapis juga melakukan inovasi berani dengan memadukan batik dan sulaman tapis, menghasilkan busana yang fleksibel untuk acara formal maupun semi-formal.
Menariknya, semangat pelestarian ini juga digaungkan oleh para istri prajurit Yonif 143/Tri Wira Eka Jaya. Di tengah penugasan suami di perbatasan Papua, mereka tetap produktif mengembangkan UMKM tapis di asrama. Nyonya Novla, istri Danyonif 143, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi wadah aktivitas positif bagi para anggota Persit.
Salah satu penggerak utamanya adalah Asri, istri Kopda Angga Dwi Ferdian, yang telah menekuni usaha tapis selama tiga tahun. Ia memanfaatkan sisa kain tapis menjadi barang serbaguna seperti tempat tisu, bros, hingga kalung. Melalui pemasaran media sosial, produk ini telah menjangkau hingga ke Jakarta dan Solo, membuktikan bahwa Tapis Lampung adalah simbol masa depan ekonomi kreatif yang berkelanjutan. (*)












